{"id":1369,"date":"2023-08-18T09:00:00","date_gmt":"2023-08-18T02:00:00","guid":{"rendered":"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/?p=1369"},"modified":"2025-05-25T23:13:44","modified_gmt":"2025-05-25T16:13:44","slug":"pojok-literasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/?p=1369","title":{"rendered":"POJOK LITERASI"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>By. admin<\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p>Jum&#8217;at, 18 Agustus 2023<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>MENINGKATKAN KARAKTER DISIPLIN SISWA MELALUI OLAHRAGA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"308\" height=\"293\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot_1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2471\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot_1.png 308w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot_1-300x285.png 300w\" sizes=\"(max-width: 308px) 100vw, 308px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Salah satu cara yang efektif untuk mendidik karakter siswa adalah melalui olahraga. Olahraga memberikan contoh dan situasi yang mudah dipahami serta dapat diaplikasikan dalam lingkungan sekolah. Olahraga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan tujuan tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik dan mental masyarakat, tetapi juga mencapai prestasi optimal dalam bidang olahraga. Prestasi olahraga dapat mengangkat citra bangsa Indonesia di mata dunia. Oleh karena itu, pembangunan bangsa sejatinya berfokus pada peningkatan kualitas manusia Indonesia, dan olahraga menjadi unsur penting dalam konteks tersebut. Diharapkan melalui olahraga, akan terbentuk karakter spesifik yang mewakili kearifan lokal dan identitas bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu falsafah olahraga yang terkenal adalah \u201cMens sana in corpore sano\u201d yang berarti \u201cDalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.\u201d Melalui aktivitas olahraga, kita dapat mengalami banyak hal positif. Olahraga bukan hanya kegiatan yang berfokus pada faktor fisik semata, tetapi juga dapat melatih sikap dan mental kita. Aktivitas olahraga sebaiknya ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Anak-anak memiliki kecenderungan menyukai berbagai jenis permainan. Guru dan orang tua dapat mengarahkan dan memberikan pilihan beragam bentuk permainan dalam aktivitas olahraga, bahkan memasukkan anak ke dalam klub olahraga tertentu seperti sepak bola, tenis lapangan, atletik, bulu tangkis, dan lainnya. Melalui cara ini, anak-anak akan belajar bersosialisasi, saling menghargai, semangat berlatih, disiplin, dan bekerja sama dengan teman-teman seklub di bawah bimbingan pelatih atau guru. Namun, tidak hanya melalui latihan teknik permainan, aspek karakter anak juga harus diperhatikan. Selama pertemuan, anak didorong untuk melakukan pembiasaan seperti saling berjabat tangan saat memulai dan mengakhiri sesi pembelajaran, baik dengan teman, guru di ruang kelas, maupun dengan doa. Hal ini bertujuan agar anak tetap mawas diri, menyadari bahwa setiap keberhasilan tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Begitu juga ketika menghadapi kegagalan, anak-anak diajari untuk menerima dan bersyukur atas segala hasil yang mereka capai.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, disiplin juga diajarkan melalui olahraga dengan menghargai waktu. Jika ada anak yang datang terlambat tanpa alasan yang jelas, maka dapat diberikan hukuman positif, seperti melakukan lari mengelilingi lapangan, push-up, sit-up, atau aktivitas fisik lainnya yang umum dalam dunia olahraga Selain hukuman positif dalam bentuk aktivitas fisik, disiplin dalam olahraga juga dapat ditanamkan melalui pengaturan jadwal latihan yang ketat. Anak-anak diajarkan untuk hadir tepat waktu dan siap mengikuti latihan dengan penuh konsentrasi. Mereka juga diberikan tanggung jawab untuk menjaga perlengkapan olahraga mereka dan merawat fasilitas yang digunakan. Dengan demikian, mereka belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan menghargai apa yang telah diberikan kepada mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, dalam aktivitas olahraga, anak-anak juga diajarkan tentang pentingnya kerjasama dan kebersamaan. Mereka belajar bekerja dalam tim, saling mendukung, dan menghargai peran masing-masing anggota tim. Melalui latihan dan pertandingan, mereka mengalami tantangan, kegagalan, dan kesuksesan bersama. Hal ini membantu mengembangkan sikap sportivitas, rasa kebersamaan, dan rasa saling menghormati antara sesama anggota tim dan lawan. Selain nilai-nilai tersebut, olahraga juga dapat melatih siswa dalam mengelola emosi mereka. Ketika berada dalam situasi pertandingan atau latihan yang intens, mereka belajar mengendalikan emosi negatif seperti kecewa, marah, atau frustrasi. Mereka diajari untuk tetap tenang, fokus, dan berpikir positif. Kemampuan mengelola emosi ini akan membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari, di dalam dan di luar lingkungan sekolah<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui olahraga, siswa juga dapat belajar tentang integritas dan fair play. Mereka diajarkan untuk menghormati aturan, menghargai lawan, dan bertindak secara jujur. Dalam pertandingan, mereka belajar menerima keputusan wasit atau juri dengan lapang dada, bahkan jika keputusan tersebut mungkin tidak sesuai dengan harapan mereka. Semua ini membantu membentuk karakter yang kuat, memiliki integritas, dan dapat diandalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan mengintegrasikan pendidikan karakter melalui olahraga, kita dapat meningkatkan kualitas siswa secara holistik. Mereka tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga mental, emosional, dan sosial. Olahraga menjadi sarana yang efektif untuk mengajarkan nilai-nilai positif, membentuk kepribadian yang kuat, serta mengembangkan keterampilan dan sikap yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, melalui olahraga, kita dapat menciptakan generasi muda yang berkarakter, bertanggung jawab, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"449\" height=\"248\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot_3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2470\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot_3.png 449w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot_3-300x166.png 300w\" sizes=\"(max-width: 449px) 100vw, 449px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p><strong><em>Sabtu, 10 September 2022<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>GURU BK BUKAN POLISI SEKOLAH<\/strong><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"152\" height=\"185\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-1-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2425\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><a>Agung Setiawan, S. Pd<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">( Guru Bimbingan dan Konseling di SMA N 2 Wonogiri )<\/p>\n\n\n\n<p>Guru BK (Bimbingan dan Konseling) atau konselor biasanya identik dengan menghukum peserta didik yang terlambat datang sekolah, nakal atau menjaga piket atau bahkan merazia peserta didik yang diketahui melanggar peraturan di sekolah. Pada dasarnya, itu bukanlah <em>jobdesk<\/em> atau tugas pokok dari seorang guru BK atau konselor disekolah tetapi itu sudah menjadi kewajiban seluruh guru yang ada disekolah untuk mengingatkan peserta didiknya. Selama ini ada anggapan di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas ataupun Kejuruan (SMA\/SMK) bahwa guru BK (Bimbingan dan Konseling) itu adalah Polisi Sekolah, padahal sebenarnya guru BK bisa menjadi partner atau teman &#8216;curhat&#8217; bagi siswa yang mempunyai masalah, baik permasalahan di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Ada kecenderungan siswa-siswa milenial dewasa ini lebih suka curhat lewat media sosial (medsos), padahal ada guru-guru BK yang mempunyai Kode Etik menjaga rahasia dari anak-anak tersebut, untuk membantu memecahkan masalah, melindungi serta memberi kenyamanan bagi mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Kebanyakan siswa beranggapan bahwa BK sebagai &#8220;Keranjang Sampah&#8221; yaitu tempat di tampungnya peserta didik yang rusak atau sedang dalam banyak masalah. Sedangkan menurut masyarakat luas, pada umumnya menganggap ruang BK adalah sebagai ruang persidangan untuk mengadili anak-anak yang sedang bermasalah di sekolahnya, sehingga muncul pendapat negatif yang menganggap bahwa guru BK adalah polisi sekolah. Siswa yang mendapat panggilan dari guru BK adalah anak nakal dan anak bermasalah yang akan diadili. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya menganggap bahwa ruang BK sebagai ruang persidangan untuk mengadili anak anak yang bermasalah disekolah, sehingga muncullah pendapat pendapat negatif yang menganggap bahwa guru BK sebagai polisi sekolah.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"408\" height=\"241\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2426\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-2.jpg 408w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-2-300x177.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 408px) 100vw, 408px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><span class=\"has-inline-color has-very-dark-gray-color\">Apa penyebab sering disebut sebagai polisi sekolah? Karena guru BK disekolah tidak menjalankan tugasnya dengan profesional. Guru BK yang seharusnya membimbing murid-muridnya dalam mengembangkan potensi diri tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang pembimbing. Guru BK malah sering terlihat memarahi, menghukum murid yang nakal dan tidak patuh terhadap tata tertib yang berlaku di sekolah, serta terkadang memberikan poin bila murid-murid melakukan kesalahan, dan merazia kelakuan mereka atau sebut saja sebagai polisi sekolah. Dewasa ini, guru BK masih dianggap sebagai polisi sekolah di berbagai sekolah. Hal itu disebabkan karena kebanyakan guru BK di sekolah yang belum profesional dalam menjalani tugas dan fungsinya sebagai guru pembimbing di sekolah. Pada dasarnya&nbsp; tugas guru BK di Sekolah berdasarkan PP No. 74 tahun 2008, tugas guru bimbingan dan konseling yaitu membantu peserta didik dalam: Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minatnya, pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan beramartabat, pengembangan kehidupan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untu mengikuti pendidikan sekolah\/madrasah secara mandiri, pengembangan kehidupan karir, yaitu bidang peleyanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir. Jadi, sangatlah pentingnya peran guru bk atau konselor disekolah. bukan untuk menjadi \u201cpolisi sekolah\u201d tetapi menjadi pendamping bagi peserta didik yang memiliki permasalahan dalam hidupnya. Sedangkan Menurut Andi Mappiare, fungsi utama bimbingan dan konseling ada tiga, yaitu: fungsi penyaluran (<em>distributive<\/em>), yaitu sebagai bantuan untuk menyalurkan bakat atau potensi yang ada pada diri siswa agar lebih berkembang, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih kesempatan yang ada di lingkungan sekolah yang sesuai dengan keadaan mereka. Fungsi pengadaptasian (<em>adaptive<\/em>) yaitu fungsi bimbingan sebagai bantuan kepada pihak sekolah agar program pengajaran dapat disesuaikan dengan keadaan, bakat, minat dan kebutuhan siswanya agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Fungsi penyesuaian (<em>adjustive<\/em>), yaitu membantu terciptanya penyesualan antara siswa dengan lingkungannya baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Jika fungsi-fungsi tersebut terlaksana dengan baik, tugas dan fungsi Guru BK bisa membantu memecahkan kebingungan akademik, mengarahkan tujuan hidup, menangani berbagai krisis yang terjadi kepada siswa. Sehingga siswa bisa mengenali diri dan mengembangkan potensinya dengan baik.<\/span><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"438\" height=\"231\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2427\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-3.jpg 438w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-3-300x158.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 438px) 100vw, 438px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Sebenarnya secara garis besar, tugas guru BK adalah meliputi membantu pengembangan minat bakat peserta didik dimana pengembangan minat dan bakat ini tidak hanya sekedar membantu peserta didik berprestasi pada kemampuan yang ia miliki. Namun juga berkenaan dengan layanan penyaluran, yaitu dengan cara menyalurkan peserta didik kepada kegiatan yang tepat berdasarkan assesment yang telah dilakukan, memberikan bimbingan mengenai permasalahan pribadi-sosial, belajar dan karir, dimana bimbingan pribadi-sosial bisa berkenaan dengan membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, agar bisa mengaktualisasikan diri dengan baik. Untuk permasalahan yang belum terjadi, maka konselor menggunakan bimbingan sedangkan untuk permasalahan yang telah terjadi, konseling adalah cara yang digunakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana cara menghilangkan kesan guru BK sebagai polisi sekolah? Dalam hal ini perlu adanya kerjasama antara guru BK, guru mapel, Kepala sekolah, dan dinas yang berkaitan. Bimbingan konseling harus masuk dalam kurikulum sekolah dan diberi jam masuk kelas agar guru BK dapat menjelaskan kepada para siswa tentang program &#8211; program yang ada&nbsp; dalam bimbingan konseling (BK). Selain itu, guru BK harus lebih inovatif, jangan hanya menghukum siswa yang bermasalah atau tidak bermasalah, serta cara memberikan hukuman jangan hanya melalui point atau sanksi tetapi harus lebih mengena agar siswa jera melakukan perbuatan yang salah dan bersikap lembut dalam menangani siswa. Terlepas dari harapan dan impian untuk memaksimalkan peranan bimbingan, satu hal yang sangat penting adalah mata rantai dalam pendidikan, yaitu adanya koordinasi yang berkesinambungan antara para <em>stake holders<\/em> pendidikan, &nbsp;pemerintah, guru, murid, pihak manajemen sekolah dengan orangtua serta lingkungan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"435\" height=\"295\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-4.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2428\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-4.jpg 435w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/agung-4-300x203.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 435px) 100vw, 435px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Jadi guru BK memang mesti banyak sabar menghadapi siswa\/siswi yang masih dalam tahap perkembangan, mereka masih perlu uluran tangan kita untuk mengarahkan mereka karena di tahap perkembangan ini adalah tahap coba-coba, coba ini dan coba itu sehingga tak jarang dari hal mencoba inilah mereka bisa terjerumus ke hal-hal yg negative, dan disinilah peran guru BK\/Konselor amat dibutuhkan untuk mengarahkan mereka memberikan hal-hal yang positif, dengan cara dan teknik-teknik khusus atau dengan pendekatan-pendekatan bimbingan kepada siswa-siswi tersebut. Pelayanan BK seharusnya berbasis kepada kepribadian dan kepekaan sosial yang efektif, yang bermuara pada terciptanya kemampuan belajar anak yang semakin baik, berakhlak mulia, dan memiliki kematangan dalam mengambil keputusan untuk berkarir.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari pemaparan atau penjelasan yang disebutkan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut, antara lain adalah :<\/p>\n\n\n\n<p>1. Anggapan yang salah mengenai BK di sekolah yang mencakup kenakalan siswa, peran dan fungsi guru BK dan pemahaman tentang BK di sekolah<\/p>\n\n\n\n<p>2. Perlu adanya pemahaman bersama antara siswa dan guru mengenai BK di sekolah dan perlu adanya sosialisasi yang rutin agar program BK bisa terlaksana secara maksimal dan menyeluruh.<\/p>\n\n\n\n<p>3. Interaksi yang tepat dan tidak terlalu membatasi antara guru BK dan para siswa akan membantu memaksimalkan peran BK di sekolah, karena setiap siswa tentu punya masalah psikologis masing-masing yang berbeda. Dengan demikian tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling (BK) tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK\/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai&nbsp;&nbsp; pihak &nbsp;&nbsp;lain&nbsp;&nbsp; untuk&nbsp;&nbsp; bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. Semoga julukan BK sebagai \u201cPOLISI SEKOLAH\u201d tidak disandang lagi oleh guru BK di mana saja kita bertugas.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p><strong>By. admin<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Kamis, 8 September 2022<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>\u201cGenta Pronesia\u201d Kuatkan Karakter Nasionalisme Siswa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"298\" height=\"250\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO-WIDYA-IKA-CANDRA-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2550\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Widya Ika Candra Dewi, S.Si Guru Prakarya dan Kewirausahaan <\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>SMA Negeri 2 Wonogiri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sekarang ini industri kreatif memegang peranan yang sangat penting bagi perekonomian masyarakat Indonesia. Menurut Kementerian Perdagangan Indonesia, industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi, daya cipta individu tersebut. Oleh karena itu industri ini tidak akan kehabisan bahan baku atau sumber daya karena berbasis pada kreativitas. Kreativitas akan menghasilkan produk, jasa, ataupun gabungan keduanya. Tahukah kalian apa itu GENTA PRONESIA ? Ini adalah&nbsp;<em>big dream<\/em>&nbsp;dari penulis untuk menumbuhkan rasa cinta dan menghargai produk kreativitas hasil karya siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber daya manusia Indonesia sebenarnya adalah insan yang kreatif, tinggal bagaimana kreativitas tersebut mampu diarahkan atau diaplikasikan ke hal-hal yang positif. Saat ini pelaku industri kreatif sudah banyak berkembang dari kalangan generasi muda. Generasi muda penerus bangsa haruslah memiliki kepribadian yang baik, ilmu dan wawasan yang luas, semangat yang tinggi,&nbsp; pikiran yang terbuka serta tujuan yang baik pula sehingga dapat berguna bagi bangsa dan negaranya. Sayangnya di era modernisasi ini dimana semuanya serba canggih, banyak generasi muda yang salah dalam memilih jalan. Di lingkungan sekolah misalnya, beberapa siswa memiliki&nbsp;<em>attitude<\/em>&nbsp;yang kurang baik karena adanya pengaruh budaya luar.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai seorang guru prakarya, penulis terinspirasi untuk mengurangi pengaruh budaya luar tersebut. Diantaranya dengan GENTA PRONESIA yang merupakan singkatan dari Gerakan Cinta Produk Indonesia. Penulis berharap agar hidup kreatif dan inovatif dapat dibudidayakan di lingkungan sekolah. Seorang guru prakarya harus terus mencoba untuk mendorong siswanya supaya bisa membuat suatu karya yang layak dan bisa dipamerkan di kalangan masyarakat luas. Diharapkan nantinya siswa akan memiliki keyakinan tinggi terhadap potensi yang ada pada dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila semuanya direncanakan terlebih dahulu dengan matang, dari tahap persiapan hingga proses akhir, maka akan menghasilkan suatu karya yang tidak kalah dengan produk luar. Karya-karya terbaiklah yang nanti akan dikumpulkan atau didokumentasikan untuk dipamerkan bahkan untuk dijual. Melalui kegiatan ini, siswa di sekolah kami membuat beberapa karya berupa lampu hias dari bambu dan tanaman hias dari batang pohon. Beberapa siswa juga ada yang membuat karya dari limbah. Misalnya, hiasan dinding dari botol plastik, miniatur mobil dan musik box dari kaleng bekas, wadah serba guna dari koran bekas.<\/p>\n\n\n\n<p>GENTA PRONESIA mendorong siswa untuk lebih kreatif dalam membuat beragam produk-produk yang bahan bakunya berasal dari bahan lokal yang murah dan mudah untuk didapatkan. Dengan demikian para siswa telah mengapresiasikan rasa cinta mereka terhadap tanah air Indonesia. Bahan baku yang terdapat di lingkungan sekitar seperti bahan baku limbah, dapat disulap menjadi karya yang indah serta memiliki daya jual tinggi. Karya anak bangsa yang membanggakan yang tidak kalah saing dengan produk luar.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain membuat produk, kegiatan ini juga mencakup Pameran Produk Hasil Karya Siswa dan Bazar Karya Siswa. Hal ini bisa untuk mengapresiasikan hasil karya siswa tersebut. Dimana tujuan dari kegiatan ini adalah ingin mengenalkan produk hasil karya siswa dikalangan sekolah maupun masyarakat luas. Dengan adanya gerakan ini diharapkan siswa bisa lebih&nbsp;<em>mengexplore<\/em>&nbsp;lagi kemampuan mereka dalam berkreativitas membuat produk dari bahan-bahan lokal yang awalnya tidak berguna menjadi suatu hasil karya yang indah dan memiliki harga jual tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui kegiatan GENTA PRONESIA ini diharapkan agar kelak para siswa bisa lebih mengembangkan hasil karya mereka serta dapat lebih siap dalam menghadapi persaingan global di masyarakat tanpa meninggalkan rasa nasionalisme pada diri mereka.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Widya Ika Candra Dewi, S.Si<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Guru Prakarya dan Kewirausahaan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>SMA Negeri 2 Wonogiri<\/strong><\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p><strong>By. admin <\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><em><strong>Senin, 8 Agustus 2022<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>MENUMBUHKAN JIWA KEWIRAUSAHAAN <em>LIFE SKILL<\/em> MELALUI KEGIATAN MEMASAK OLAHAN PANGAN HIGIENIS NUSANTARA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>SMAN 2 WONOGIRI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Oleh<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"156\" height=\"146\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/mbak-tri.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2300\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tri Winarsih, S.Pd<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Guru Ekonomi dan Prakarya &amp; Kewirausahaan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; SMA Negeri 2 Wonogiri<\/p>\n\n\n\n<p>Kehidupan manusia dalam bermasyarakat sejak dahulu telah mengembangkan kemampuan olah pikir dan olah rasa, baikuntuk membantu memecahkan masalah maupun menghasilkan produk olahan yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup. Indonesia memiliki potensi besar bagi pasar dunia &nbsp;industri, maka generasi muda perlu memiliki jiwa yang tangguh untuk berwirausaha, memahami strategi wirausaha dan keberanian untuk terjun ke dalam dunia usaha.<\/p>\n\n\n\n<p>Menyikapi perkembangan dan perubahan teknologi, budaya dan gaya hidup yang terjadi dengan cepat di dunia saat ini, dunia &nbsp;&nbsp;pendidikan di Indonesia mengantisipasi melalui penguatan keterampilan dan jiwa kewirausahaan peserta didik. Salah satu mata pelajaran yang mengembangkan keterampilan dan jiwa kewirausahaan ini adalah Prakarya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mata Pelajaran Prakarya terdiri dari empat sub bidang keterampilan yaitu kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan. Prakarya pengolahan mengembangkan keterampilan peserta didik melalui kepekaan terhadap lingkungan, ide dan kreativitas untuk bertahan hidup secara mandiri dan ekonomis. <img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"7\" height=\"18\" src=\"\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di SMAN 2 Wonogiri, kami mengembangkan sebuah program kegiatan Kewirausahaan <em>Life skill<\/em> dengan fokus memasak. Program ini mengacu pada konsep hasta karya Ki Hajar Dewantara yaitu mengembangkan cipta, rasa, dan&nbsp; karsa dengan menciptakan produk olahan pangan yang berdampak pada diri serta lingkungan secara kontekstual dan higienis.<\/p>\n\n\n\n<p>Kewirausahaan <em>Life skill<\/em> Memasak ini mengembangkan kompetensi siswa untuk mampu merencanakan dan menghasilkan produk olahan pangan yang berdampak individu maupun sosial dan berbasis ekosistem. Kompetensi pembelajaran terdiri dari kemampuan mengeksplorasi dan mengembangkan bahan, alat, teknik (pencampuran, pemanasan, pengawetan, dan modifikasi), serta sistem pengolahan. Pengalaman pembelajaran diperoleh dari sekolah, keluarga dan masyarakat. Di samping itu, peserta didik dilatih kemampuan berpikir kreatif-inovatif, logis, sistematis, dan global (<em>komprehensif<\/em>). Pengembangan materi pembelajaran bersifat kontekstual yaitu menggali potensi kearifan lokal melalui kemampuan apresiasi, observasi, dan eksplorasi untuk membuat desain\/perencanaan. Proses produksi pengolahan melalui eksperimen, modifikasi, dan penyajian sebagai sentuhan akhir (<em>finishing touch) <\/em>produksi dengan memberi kesempatan merefleksi dan mengevaluasi. Akhirnya, melalui penguasaan ilmu dan pengetahuan seni, desain, teknologi, budaya, ekonomi dengan semangat &nbsp;kewirausahan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"494\" height=\"271\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2301\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-1.jpg 494w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-1-300x165.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 494px) 100vw, 494px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Program Prakarya berfokus pengolahan bahan pangan yang kami laksanakan ini memiliki tujuan sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<ol type=\"1\"><li>Menghasilkan produk pengolahan pangan sehat\/higienis yang ekonomis melalui eksplorasi bahan, teknik, alat dengan mengembangkan pengetahuan dan prinsip teknologi pengolahan.<\/li><li>Mengapresiasi, mengevaluasi dan merefleksi karya produk teknologi olahan pangan masyarakat maupun teman sendiri berdasarkan pendekatan sistematis ilmiah.<\/li><li>Menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan melalui kepemimpinan, kerja sama dan berani mengambil resiko.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Kewirausahaan <em>Life skill<\/em> ini mengembangkan kemampuan siswa untuk mengolah bahan pangan secara higienis menjadi produk jadi dan produk setengah jadi dalam bentuk sajian\/kemasan yang menarik berbasis kewirausahaan. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengolahan melalui metoda kolaborasi, sinergi dan sintesa untuk mengkaji, memecahkan, mengevaluasi dan merefleksikan dalam kegiatan pengolahan bahan, teknik dan alat.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini langkah \u2013 langkah pelaksanaan program kegiatan Kewirausahaan Life Skill Memasak yang kami terapkan di SMAN 2 Wonogiri:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>A. KEGIATAN AWAL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol><li>Siswa kelas X (Sepuluh ) ada 12 kelas, setiap kelas akan di bentuk menjadi 6 kelompok, setiap kelompok anggotanya 6 siswa. Setelah dibentuk kelompok, masing-masing kelompok menentukan ide poduk olahan pangan higienis Nusantara.<\/li><li>Ide yang sudah disepakati anggota kelompok dan disetujui oleh guru yang mengampu, kegiatan selanjutnya adalah setiap kelompok membuat proposal kegiatan, proposal kegiatan yang dibuat harus mencakup latar belakang membuat produk, nama produk, alat dan bahan, cara pembuatan, dan rencana anggaran yang digunakan untuk membuat produk tersebut. Contoh proposal :&nbsp; PRODUK OLAHAN PANGAN HIGIENIS NUSANTARA SIOMAY- BANDUNG. Setelah proposal jadi, kita tentukan jadwal dan tempat pelaksanaan memasak. Tempat perlaksanaan kita sepakati di area dapur sekolah SMA Negeri 2 Wonogiri. <img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"506\" height=\"253\" class=\"wp-image-2302\" style=\"width: 500px;\" src=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-2.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-2.jpg 506w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-2-300x150.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 506px) 100vw, 506px\" \/><\/li><li>Selanjutnya siswa berkumpul dengan anggota kelompoknya untuk pembagian tugas persiapan alat dan bahan, merencanakan penyajian, dan pengemasan produk jadi. Kegiatan pembagian tugas: <img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"575\" height=\"301\" class=\"wp-image-2303\" style=\"width: 500px;\" src=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/image-3.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/image-3.jpg 575w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/image-3-300x157.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 575px) 100vw, 575px\" \/><\/li><li>Guru pengampu menjelaskan alur pelaksanaan memasak, setelah proses memasak selesai dan produk sudah jadi, ada produk yang dinilai dengan penyajian yang menarik, dan ada juga produk yang dikemas higienis untuk di promosikan\/ dijual di lingkungan sekolah.<\/li><li>Guru pengampu menyiapkan peralatan memasak milik sekolah untuk membantu kelancaran kegiatan memasak, guru pengampu juga menyiapkan stiker menarik yang akan ditempelkan di kemasan produk yang di jual. Contoh Stiker Produk : <\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-4-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2321\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>B. KEGIATAN MEMASAK<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol><li><strong>Proses Memasak<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Pada tahap ini, siswa bersama anggota kelompoknya memasak menu sesuai yang telah mereka sebutkan di proposal. Berikut ini beberapa dokumentasinya:<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"544\" height=\"268\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-5.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2305\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-5.jpg 544w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-5-300x148.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 544px) 100vw, 544px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"548\" height=\"306\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-6.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2306\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-6.jpg 548w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-6-300x168.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 548px) 100vw, 548px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"565\" height=\"318\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-7.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2307\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-7.jpg 565w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-7-300x169.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 565px) 100vw, 565px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"567\" height=\"446\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-8.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2308\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-8.jpg 567w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-8-300x236.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 567px) 100vw, 567px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>      2. <strong>Penyajian<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahap ini, siswa berlatih untuk menyajikan menu yang telah dimasak dengan kemasan dan cara penyajian yang higinis dan menarik. Foto-foto di bawah ini merupakan beberapa contoh penyajian masakan siswa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"282\" height=\"353\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-9-1.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2310\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2023\/02\/22\/pojok-literasi\/image-9-1\/\" class=\"wp-image-2310\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-9-1.jpg 282w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-9-1-240x300.jpg 240w\" sizes=\"(max-width: 282px) 100vw, 282px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"277\" height=\"351\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-10.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2311\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-10.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2023\/02\/22\/pojok-literasi\/image-10-2\/\" class=\"wp-image-2311\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-10.jpg 277w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-10-237x300.jpg 237w\" sizes=\"(max-width: 277px) 100vw, 277px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"445\" height=\"321\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-11.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2312\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-11.jpg 445w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-11-300x216.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 445px) 100vw, 445px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>      3. <strong>Pengemasan produk yang di jual<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Siswa kemudian juga didorong untuk berlatih mengemas produk masakan mereka agar lebih layak jual. Foto berikut adalah salah satu contohnya:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"244\" height=\"386\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-12.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2313\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2023\/02\/22\/pojok-literasi\/image-12-2\/\" class=\"wp-image-2313\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-12.jpg 244w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-12-190x300.jpg 190w\" sizes=\"(max-width: 244px) 100vw, 244px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"303\" height=\"383\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-13.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2314\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-13.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2023\/02\/22\/pojok-literasi\/image-13\/\" class=\"wp-image-2314\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-13.jpg 303w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-13-237x300.jpg 237w\" sizes=\"(max-width: 303px) 100vw, 303px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>C. KEGIATAN AKHIR PROMOSI PRODUK\/ MENJUAL PRODUK<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya siswa didorong untuk melakukan penjualan pada produk masakan yang telah mereka kembangkan. Siswa boleh memasarkan secara langsung pada kawan atau guru, boleh juga melakukan pemesanan lewat sosial media. Siswa juga didorong untuk melakukan promosi yang menarik untuk meningkatkan daya jual produk mereka. Foto- foto dibawah ini merupakan dokumentasi kegiatan akhir berupa promosi dan menjual produk :<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-5 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"256\" height=\"265\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-14.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2315\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2023\/02\/22\/pojok-literasi\/image-14\/\" class=\"wp-image-2315\"\/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"264\" height=\"267\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-15.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2316\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/image-15.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2023\/02\/22\/pojok-literasi\/image-15\/\" class=\"wp-image-2316\"\/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa rangkaian kegiatan program kewirausahaan <em>Life Skill<\/em> memasak ini telah berjalan dengan baik. Mulai dari awal hingga akhir, kegiatan terlaksana dengan lancar, peserta didik pun begitu antusias dan semangat dalam melaksanakannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari program yang kami jalankan ini. Dari kegiatan kewirausahan ini, peserta didik mampu menghasilkan produk olahan pangan sehat\/higienis melalui eksplorasi bahan, teknik, alat dengan mengembangkan pengetahuan dan prinsip teknologi pengolahan. Tidak hanya itu, dengan kegiatan memasak ini peseta didik dapat mengeksplorasi produk olahan pangan higienis nusantara atau produk yang bernilai ekonomis dari berbagai sumber, Peserta didik juga dapat menganalisis karakteristik bahan, alat, teknik dan prosedur pengolahan, serta penyajian dan kemasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui kerjasama dalam menentukan ide produk olahan pangan peserta didik mampu menyusun rencana pembuatan produk olahan pangan higienis berdasarkan analisis usaha, ketersediaan bahan, peralatan, bentuk, serta tampilan sesuai potensi nusantara dan hasil eksplorasi. Setelah menyusun perencanaan, peserta didik juga &nbsp;&nbsp;&nbsp;mampu mengembangkan &nbsp;produk olahan pangan nusantara higienis berbasis usaha, serta menampilkan dalam bentuk penyajian dan pengemasan secara kreatif-inovatif dan dipromosikan, serta tujuan terakhir sekolah untuk menumbuhkan kembangkan jiwa kewirausahaan melalui &nbsp;kepemimpinan, kerja sama dan berani mengambil resiko bisa tercapai melalui kegiatan memasak ini. Dapat kami simpulkan, program kegiatan Kewirausahaan <em>Life Skill<\/em> Memasak ini memiliki dampak yang baik bagi peserta didik SMA Negeri 2 Wonogiri dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi lebih baik lagi di masa mendatang.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p><strong>By. admin<\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><em><strong>Senin, 11 April 2022<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>SENI HELLENISTIC MASA HINDU-BUDHA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"177\" height=\"212\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2107\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Oleh: Yunita Dwi Astuti<\/p>\n\n\n\n<p>(Guru Sejarah SMAN 2 Wonogiri \u2013 Jawa Tengah)<\/p>\n\n\n\n<p>Arkeologi Klasik adalah salah satu spesialisasi dari beberapa bidang spesialisasi dalam dunia penelitian arkeologi di Indonesia, berdasarkan waktu atau masa pengaruh kebudayaan tertentu. Arkeologi Klasik di Indonesia merupakan kajian arkeologi yang objek penelitiannya meliputi semua peninggalan purbakala yang mendapat pengaruh dari kebudayaan India, meskipun kenyataannya tinggalan-tinggalan purbakala tersebut berbeda jauh dari asalnya. Hal ini disebabkan adanya kehebatan dari nenek moyang kita dalam memadukan kebudayaan lokal dengan kebudayaan dari India.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Arkeologi Klasik, objek penelitiannya meliputi peninggalan dari masa Hindu-Budha, yang berupa Arca-arca, Bangunan Candi\/Biara, serta Sejarah Sosial dan kebudayaan yang dipengaruhi oleh kebudayaan India (Agama, Sistem Pemerintahan, Perdagangan, dan lain-lain).<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan dari penelitian bidang Arkeologi Klasik adalah mengungkapkan aspek-aspek kehidupan manusia masa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha melalui peninggalan kepurbakalaannya yang berupa bangunan candi\/biara, arca-arca, dan lain-lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam periodisasi sejarah kebudayaan Indonesia dikenal adanya beberapa tahapan secara garis besar, yaitu masa prasejarah yang merupakan perkembangan kebudayaan yang paling awal, seluruh kepulauan Indonesia mengalami tahapan prasejarah tersebut. Masa prasejarah kira-kira berakhir dalam abad ke-4 M dengan ditemukannya bukti tertulis awal di Nusantara. Masa prasejarah mempunyai suatu era penting yang dinamakan megalitik, dalam era itu penduduk kepulauan Indonesia telah menghasilkan bermacam monumen megalitik sebagai sarana pemujaan kepada arwah leluhur (ancestor worship). Aktivitas dalam era megalitik tersebut tidaklah terhenti, melainkan di beberapa tempat terus berlanjut hingga masa sejarah sudah dikenal oleh penduduk kepulauan Nusantara, bahkan ada yang terus bertahan hingga dewasa ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian disusul masa transisi antara periode prasejarah dan sejarah yang dinamakan proto-sejarah. Pada prinsipnya proto-sejarah mempunyai dua ciri, yaitu (a) di suatu tempat telah dijumpai bukti tertulis yang diduga aksara namun belum dapat dibaca, dan (b) berita tentang suatu wilayah telah dicatat oleh bangsa lain yang telah mengenal tulisan, sementara itu penduduk wilayah tersebut belum mengenal tulisan.&nbsp; Masa proto-sejarah terjadi secara berbeda-beda di wilayah Indonesia, ada yang hanya singkat saja, namun ada pula yang berlangsung selama beberapa abad.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika penduduk kepulauan ini telah mengenal aksara dan meninggalkan berita tertulisnya, maka sejak itulah penduduk kepulauan Nusantara memasuki era sejarahnya. Dalam masa sejarah perkembangan kebudayaan Indonesia dapat dibagi menjadi periode Hindu-Buddha, periode masuk dan berkembangnya Islam, kolonialisme Belanda, dan kemerdekaan Indonesia. Kajian ini selanjutnya membicarakan periode Hindu-Buddha Indonesia, khususnya yang berkembang di wilayah Jawa bagian tengah. Dalam telaah kebudayaan Indonesia, masa perkembangan pengaruh Hindu-Buddha tersebut lazim dinamakan zaman Klasik Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gaya Seni Klasik Tua<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada galibnya suatu zaman dalam sejarah kebudayaan sesuatu bangsa dinamakan Klasik apabila mempunyai dua ciri:<\/p>\n\n\n\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Masyarakat manusia dalam zaman itu telah menghasilkan tonggak-tonggak peradaban pertama yang akan menjadi dasar perkembangan peradaban selanjutnya di masa yang lebih kemudian, misalnya (mulai digunakan tulisan, sistem kalender, sistem kerajaan, konsep kepahlawanan, mitologi dewa-dewa, dan lainnya lagi).<\/p>\n\n\n\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Banyak kaidah, aturan, konsep atau norma budaya yang berkembang dalam zaman tersebut terus saja digunakan hingga masa sekarang, jadi di zaman sekarang seringkali masih mengacu kaidah lama yang pernah berkembang sebelumnya di zaman awal kegemilangan peradaban bangsa tersebut.&nbsp;&nbsp;Bagi bangsa Indonesia, zaman Klasik yang sesuai dengan kedua syarat&nbsp; tersebut adalah masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Nusantara, oleh karena itu masa Hindu-Buddha kemudian dinamakan zaman Klasik Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan&nbsp; berbagai tinggalan arkeologisnya, zaman klasik dibagi menjadi dua periode, yaitu (a) zaman Klasik Tua yang berkembang antara abad ke-8\u201410 M, dan (b) zaman Klasik Muda berkembang antara abad ke-11\u201415 M. Kedua zaman itu berkembang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera dan Bali, namun banyak bukti arkeologi dalam zaman Klasik Tua didapatkan di wilayah Jawa bagian tengah, oleh karena itu terdapat kepustakaan yang menyatakan agak keliru dengan sebutan \u201cZaman Jawa Tengah\u201d. Adapun untuk zaman Klasik Muda disebut juga secara keliru dengan \u201cZaman Jawa Timur\u201d, berhubung banyaknya temuan arkeologi dari abad ke-11\u201415 (sebenarnya baru mulai banyak sejak abad ke-13) yang terdapat di wilayah Jawa bagian timur. Justru pembagian zaman Klasik yang didasarkan kepada kronologi tersebut untuk memperluas cakupan kajian, jadi tidak melulu bicara tentang tinggalan di Jawa bagian tengah atau timur belaka (Munandar 1995: 108).<\/p>\n\n\n\n<p>Masa sejarah di Indonesia dimulai setelah ditemukannya bukti prasasti-prasasti awal (bertarikh sekitar abad ke-4 M) ditemukan di wilayah Kutai, Kalimantan Timur yang menyebut nama raja Mulawarmman dan Jawa bagian barat yang menyebutkan Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya Purnnawarmman.Prasasti-prasasti itu menggunakan aksara Pallava dengan bahasa Sansekerta (Suleiman, 1974: 14\u201415);&nbsp; sedangkan nafas keagamaan yang terkandung dalam prasasti-prasasti tersebut bercorak Veda kuno, masih belum memuja Trimurti. Dalam masa sejarah itulah pengaruh kebudayaan India mulai datang dan berkembang secara terbatas di beberapa tempat di Nusantara.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam masa selanjutnya pengaruh kebudayaan India awal yang menularkan ajaran Veda-Brahmana tersebut agaknya&nbsp; tidak diminati lagi oleh masyarakat. Dengan menghilangnya kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat tidak ada kerajaan lainnya yang meneruskan ritual Veda Kuno yang didominasi oleh kaum Brahmana. Alih-alih kerajaan yang muncul kemudian di wilayah Jawa bagian tengah dalam abad ke-8 M bernafaskan Hindu Trimurti. Kerajaan itu adalah Mataram Kuno yang mengeluarkan Prasasti Canggal dalam tahun 732 M, dalam prasasti itu dinyatakan nama raja yang menitahkan penerbitan prasasti, yaitu Sanjaya. Nafas keagamaan yang cukup kentara dalam prasasti adalah Hindu-saiva, karena bait-baitnya banyak memuliakan Siva Mahadeva (Poerbatjaraka 1952: 53\u201455).<\/p>\n\n\n\n<p>Bersamaan dengan masuknya pengaruh Hindu-saiwa, dalam masa yang hampir bersamaan datang pula pengaruh agama Buddha dari aliran Mahasanghika (Mahayana) ke tengah-tengah masyarakat Jawa Kuno. Dengan demikian di Jawa bagian tengah antara abad ke-8\u201410 M berkembang 2 agama besar, yaitu Hindu-saiwa dan Buddha Mahayana yang beraasal dari Tanah India. Dalam perkembangannya itu banyak dihasilkan berbagai bentuk kesenian, seni yang masih bertahan hingga sekarang adalah bukti-bukti seni rupa yang berupa arca dan relief serta dan kemajuan karya arsitektur bangunan suci. Demikianlah risalah singkat ini memperbincangkan perihal zaman Klasik Tua yang berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bukan di wilayah lainnya di Indonesia. Bukti arkeologis yang akan dijadikan data, adalah penggambaran relief dan arca-arca dewa, baik yang dikembangkan dalam lingkup kebudayaan India, dan juga arca dan relief yang dihasilkan oleh kebudayaan Klasik Tua di masa Jawa kuno di Jawa tengah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hellenisme<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sejarah kebudayaan India, setelah zaman Mohenjodharo dan Harappa, berkembanglah kesenian yang pertama kali muncul di Tanah India, yaitu gaya seni Maurya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"796\" height=\"479\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2108\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita-2.png 796w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita-2-300x181.png 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita-2-768x462.png 768w\" sizes=\"(max-width: 796px) 100vw, 796px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Gaya seni Maurya dapat dinyatakan sebagai bentuk akulturasi dari berbagai gaya kesenian yang tumbuh di zaman itu, yaitu meneruskan gaya seni Lembah Sungai Sindhu Kuno, ditambah dengan pengaruh gaya seni Persia (achaemenid) yang sebenarnya sangat mengagumi perkembangan seni rupa Hellas (Yunani Kuno). Raja Chandragupta (322\u2014298 SM), dan Bindusara Maurya (297\u2014272 SM) dikenal sebagai orang yang Hellenophile, mereka pencinta kebudayaan Hellas (Wirjosuparto 1956: 24).<\/p>\n\n\n\n<p>Orang Yunani kuno menyebut diri mereka sendiri dengan Hellenes, segala sesuatu yang dipandang sebagai milik budaya mereka disebut Hellenic. Adapun bentuk kebudayaan Yunani Kuno yang berkembang sesudah masa Alexander the Great disebut Hellenistic, yang artinya \u201cseperti atau mirip, tetapi tidak sungguh-sungguh Yunani\u201d (Cairns, 1985: 93). Sedangkan paham untuk mengembangkan dan mempelajari kebudayaan Hellenistic yang berkembang di India kemudian disebut dengan Hellenisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkembangan seni rupa Maurya sejatinya telah mendahului, perkembangan bentuk kesenian Hellenistic yang dibawa bersama masuknya kekuasaan Alexander the Great ke India bagian utara, beberapa abad kemudian. Kesenian Hellenistic dalam masa sesudah masuknya Alexander the Great sebenarnya melanjutkan saja bentuk anasir kesenian Yunani Kuno yang telah dikenal dalam zaman Maurya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkembangan seni arca India, gaya seni arca Maurya&nbsp; merupakan titik pangkal perkembangan seni arca selanjutnya. Pada awalnya&nbsp; seni arca Maurya dipresentasikan dalam wujud yang serba besar, dan bersifat statis. Setelah mendapat pengaruh anasir seni arca Achaemenid dan Hellas, maka bentuk arca Maurya mengarah kepada bentuk yang halus, lemah lembut, bersifat plastis, ciri-ciri itulah yang kemudian diteruskan oleh bentuk seni arca&nbsp; India selanjutnya (Wirjosuparto 1956: 32).<\/p>\n\n\n\n<p>Maka dalam awal abad ke-3 SM mulailah pengembaraan tentara Yunani dipimpin oleh Alexander the Great ke wilayah timur untuk menaklukkan wilayah-wilayah kekuasaan Persia. Dalam tahun 331 SM ia berhasil mengalahkan tentara Persia dan menewaskan rajanya. Tentara Yunani juga menaklukkan wilayah-wilayah di Syria, merebut Tyre setelah dikepung cukup lama, menguasai Memphis dan merebut seluruh wilayah Mesir Kuno (Cairns 1985: 87).&nbsp; Setelah mengusai Persia Alexander mulai mengarahkan tentaranya ke tanah India, dalam tahun 327 SM tentara Yunani melalui lembah-lembah pegunungan Hindukush masuk ke India utara. Perjalanan mereka dibantu oleh Raja Taksa\u015bil\u0101, raja ini sadar untuk tidak perlu melawan Alexander mengingat tentara yang dipimpinnya sangat banyak, dan pastinya ia akan kalah sia-sia. Setelah berada di wilayah pedalaman, tentara Alexander segera mendapat perlawanan dari orang-orang India. Salah satu peperangan penting terjadi antara tentara Alexander dengan bala tentara Raja Paurawa (Poros) yang menantikan musuhnya dengan tentara yang terdiri dari 200 ekor gajah, 30.000 prajurit infanteri, 4000 prajurit kavaleri, dan 300 kereta perang yang masing-masing dihela 4 kuda yang mampu mengangkut 6 prajurit. (Prijohutomo 1953: 16).<\/p>\n\n\n\n<p>Semua kekuatan tentara Paurawa itu tidak mampu membendung serangan tentara Yunani, dalam pertempuran di Hidaspes angkatan perang Paurawa binasa, karena hantaman tentara Yunani dan juga karena gajah-gajah mereka sendiri yang menjadi liar akibat serangan berkuda yang melaju pesat dari tentara Yunani. Raja Paurawa ditangkap secara terhormat karena keyakinannya yang gigh membela tanah airnya, pada akhirnya Paurawa dilepaskan dan tetap dirajakan oleh Alexander dan menjadi sekutu orang-orang Yunani&nbsp; yang penting di India (Prijohutomo 1953: 16, Cairns 1985: 91). Perjalanan bala tentara Yunani kemudian diteruskan memasuki pedalaman India ke lembah Sungai Gangga, akan tetapi ketika sampai ke pinggir Sungai Bias, bala tentaranya mogok dan menyatakan tidak bersedia meneruskan penyerangan merebut kota-kota musuh dan menguasai daerah baru di India. Mereka menyatakan ingin kembali ke Yunani yang telah lama ditinggalkan (Prijohutomo 1953: 17, Mulia&nbsp; 1959: 23). Pada tahun 326 SM, sebelum melakukan perjalanan kembali, Alexander memerintahkan bala tentaranya untuk mendirikan 12 kuil yang sebagai ungkapan terima kasih kepada dewa-dewa Yunani, kuil-kuil itu dilengkapi dengan arca-arca dewa yang tentunya dibuat menurut gaya seni Hellas. Perjalanan kembali&nbsp; tidak melewati rute yang sama dengan kedatangannya, oleh karena itu tentara Yunani yang jumlahnya puluhan ribu tersebut melalui Sungai Indus menghilir terus ke arah muaranya di Laut Arab. Dalam perjalanan tersebut kerajaan yang ada di tepi Sungai Indus menghadang dan mengadakan perlawanan, sampai 3 kali Alexander dan tentaranya melakukan peperangan dalam perjalanan menghilir Sungai Indus. Sesampainya di tepi Laut Arab dibukalah pelabuhan baru atas nama Alexander. Perjalanan dilanjutkan dengan dua cara, sebagian menempuh perjalanan laut melalui Teluk Persia, dan sebagian lainnya dengan dipimpin sendiri oleh Alexander kembali ke Babylonia melalui perjalanan darat. Perjalanan darat itulah yang mengakibatkan banyak korban jatuh akibat kelelahan, kehausan, kelaparan, penyakit, dan peperangan-peperangan dengan suku-suku di pegunungan dan gurun.&nbsp; Akhirnya Alexander tiba di Babylonia, sempat menikah dengan seorang putri bernama Roxana, Alexander meninggal dalam usia yang muda dalam umur 32 tahun (Mulia 1959: 24, Cairns 1985: 91)<\/p>\n\n\n\n<p>Dapatlah dipahami bahwa masuknya anasir kesenian Yunani ke Tanah India dalam masa sesudah kerajaan Maurya adalah akibat dibawa langsung oleh orang-orang Yunani sendiri. Selain mengembangkan pengaruh kekuasaannya, orang-orang Yunani juga pada dasarnya membawa kesenian, terutama seni arca dan reliefnya. Dalam masa Gandhara perkembangan kesenian Hellenistic berlangsung dengan pesat, sehingga lahirlah paham Hellenisme yang menjadikan kesenian Yunani sebagai ukuran keindahan seni. Seni Gandhara terutama dikenal karena kemampuannya dalam mengembangkan kesenian Buddha, kesenian inilah yang pertama kali melukiskan tokoh Buddha sendiri. Sebelum itu Buddha hanya digambarkan dengan berbagai lambangnya, misalnya cakra, tapak kaki, dan petarana kosong. Kesenian Gandhara yang Hellenistic tersebut akan banyak mempengaruhi gaya seni selanjutnya di India (Prijohutomo 1953: 30). Kesenian Mathura yang berkembang agak lebih muda dari Gandhara, banyak terpengaruh pula oleh kesenian Gandhara terutama dalam penggambaran arca-arca Buddha dan Bhodhisattvanya. Kelenturan plastis yang dikembangkan oleh seni arca Mathura sebenarnya memperoleh pengaruh pula dari kesenian Gandhara, karena sejak abad pertama dan hingga abad ke-2 M, kesenian Gandhara masih menjadi acuan pengembangan kesenian Mathura (Wirjosuparto 1956: 48\u201449).<\/p>\n\n\n\n<p>Kesenian Klasik India yang memuncak dalam zaman Gupta (sekitar tahun 300\u2014600 M) merupakan perkembangan dan perpaduan lebih lanjut antara seni arca Gandhara dan Mathura. Jadi secara tidak langsung kesenian Gupta juga menyimpan pengaruh seni arca Gandhara terutama dalam penggambaran arca-arca Bauddhanya. Sebagaimana telah diketahui pada akhirnya agama Buddha Mahayana berkembang juga di Pulau Jawa, bahkan berhasil membangun monumen besar yang penuh dengan nilai estetika, yaitu Candi Borobudur. Maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kesenian Buddha dari India juga yang pada awalnya diperkenalkan kepada pemeluk agama Buddha di Jawa. Artinya anasir-anasir dari seni arca Gupta, Mathura, dan Gandhara yang Hellenistic juga memasuki dan mempengaruhi perkembangan seni arca dan relief di Jawa. Risalah singkat ini selanjutnya hendak menilik beberapa anasir seni Gandhara yang memasuki kesenian Jawa Kuno dalam zaman Klasik Tua, melalui perpaduannya dengan kesenian India lainnya, terutama periode Gupta.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jejak Anasir Seni Arca Hellenistic dalam kesenian Klasik Tua di Jawa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bersamaan dengan berkembangnya agama Buddha di Jawa, maka kesenian Buddhapun berkembang pula, karena kesenian dan aktivitas keagamaan pada masa itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Setelah memperhatikan ciri penggambaran relief yang terdapat di candi-candi Buddha masa Klasik Tua di Jawa Tengah, antara lain di Candi Borobudur, maka dapat disimpulkan adanya anasir seni yang mungkin meneruskan tradisi seni Hellenistic Gandhara yang diserap oleh kesenian Mathura dan Gupta yang pada akhirnya masuk ke Jawa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"780\" height=\"390\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita-3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2109\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita-3.png 780w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita-3-300x150.png 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/yunita-3-768x384.png 768w\" sizes=\"(max-width: 780px) 100vw, 780px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dalam penggambaran relief di candi-candi masa Klasik Tua di Jawa Tengah, dapat dikatakan adanya pengaruh Gandhara dalam kesenian&nbsp; Gupta yang akhirnya menjadi ciri seni relief Jawa, namun apabila ditelusuri ciri itu dapat dirunut kembali kepada bentuk kesenian Hellenistic Gandhara. Dalam seni relief beberapa anasir Gandhara itu adalah:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>a. Bentuk relief tinggi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Awalnya terdapat dalam pahatan-pahatan seni relief Gandhara yang membuat figur tokoh-tokoh menjadi lebih menonjol dari bidang pahatan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>b. Gaya naturalis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu ciri yang terdapat dalam pemahatan relief masa Klasik Tua adalah gaya naturalis, gaya demikian sebenarnya telah dikenal sejak zaman kesenian Gandhara. c.Wajah digambarkan en-face, menghadap&nbsp; ke pengamat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam pemahatan relief wajah tokoh-tokoh dibuat menghadap ke pengamat, gaya ini terdapat dalam pemahatan relief cerita Karmmavibhangga, Lalitavistara dan lainnya&nbsp; di Candi Borobudur.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Adanya penggambaran lipatan kain (draperi)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Relief gaya seni Gandhara sangat memperhatikan penggambaran lipatan kain, terutama pada bagian busana yang dikenakan oleh para tokoh. Lipatan kain itu digambarkan sangat halus dan naturalis, sehingga jatuhnya kain dan lipatan kain hampir seperti kenyataan sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa anasir seni yang masih kemungkinan besar berasal dari gaya seni Hellenistic Gandhara ternyata masih dapat dijumpai dalam gaya seni arca dan relief di Jawa. Mungkin kajian di masa mendatang yang lebih mendalam akan banyak mengungkap lagi macam anasir seni lainnya yang masih bertahan dalam kesenian Jawa Kuno jauh beberapa abad kemudian setelah kesenian Gandhara meredup.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara historis dan arkeologis memang tidak ada hubungan langsung antara kebudayaan Yunani-Romawi dengan perkembangan kebudayaan di kepulauan Indonesia masa silam. Hal sangat mungkin terjadi akibat jauhnya jarak yang memisahkan wilayah Yunani kuno di Laut Tengah (Eropa) dan kepulauan Nusantara yang berada di Laut Asia Tenggara. Sebenarnya berita-berita tentang adanya pulau rempah-rempah yang terletak di wilayah timur telah terdengar dan dicatat oleh para sejarawan dan geograf dari Yunani-Romawi, hanya saja kunjungan langsung dari orang-orang Yunani Kuno ke kepulauan Indonesia belum pernah ada buktinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hal kebudayaan, secara teoritis perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha Nusantara, terutama di Jawa, sedikit banyak telah mendapat pengaruh anasir kebudayaan Yunani Kuno lewat seni Hellenistic yang pernah berkembang di Gandhara, wilayah India Utara. Hellenistic Art itu telah mempengaruhi kesenian Mathura dan Gupta yang berkembang agak kemudian di India, kesenian Gupta yang bersifat Buddha itu juga masuk ke Jawa. Maka dengan sendirinya ada gaya seni Hellenistic yang diterima dan dikembangkan oleh seniman-seniman Jawa Kuno.<\/p>\n\n\n\n<p>Diharapkan di masa mendatang penelitian secara khusus terhadap anasir seni Hellenistic di Indonesia dapat segera dilakukan, hal itu untuk membuktikan bahwa sejak masa silam, dalam sejarah antara bangsa Yunani dan bangsa Indonesia telah ada hubungan yang baik dan dapat dikembangkan lebih lanjut di masa sekarang ini.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p><strong>By. Admin<\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><strong><em>Jumat, 15 Oktober 2021<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Sejarah Kereta Api Solo &#8211; Wonogiri<\/strong><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"114\" height=\"147\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2417\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Oleh: YUNITA DWI ASTUTI<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">(Guru&nbsp; Sejarah SMAN 2 Wonogiri &#8211; Jawa Tengah)<\/p>\n\n\n\n<p>Perjalanan kereta api dari Purwosari menuju keWonogiri dan berlanjut ke Baturetno suatu hal yang sangat menarik untuk kita simak dan pelajari sejarahnya karena jalur kereta ini merupakan salah satu jalur&nbsp; jalur kereta api yang berada di Pulau Jawa yang masih aktif walaupun secara ekonomi sekarang ini kurang bermanfaat jalur ini menghubungkan Stasiun Purwosari menuju Wonogiri. Dalam perkembangan zaman yang semakin maju ini persaingan tranportasi semakin ketat dan kereta api jurusan Purwosari \u2013 Wonogiri kalah bersaing dengan tranportasi darat.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"630\" height=\"394\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2418\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-2.jpg 630w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-2-300x188.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 630px) 100vw, 630px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Gambar: Jalur rel kereta api Purwosari-Wonogiri era Penjajahan Belanda<\/p>\n\n\n\n<p>(sumber:https:\/\/www.nationaalarchief.nl\/onderzoeken\/fotocollectie\/2649b9c2-7fe5-d558-d357-f9be6a9525b7)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sejak Zaman Penjajahan Belanda<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejarah perkeretaapian di Wonogiri diawali dengan adanya pontensi alam yang berada di Wonogiri sampai dengan Baturetno dimana sepanjang daerah itu kaya akan batu gamping yang sangat berguna bagi pembangunan pada masa Kolonial&nbsp; Belanda. Bahan batu gamping merupakan bagian bahan penting untuk membangun benteng-benteng pertahanan dan pos-pos keamanan serta bangunan-bangunan lainnya. Utamanya untuk bahan bakar pabrik gula yang berada di daerah Solo Raya.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk kepentingan itulah maka Penjajah Belanda mulai berencana membuat jalur kereta api Purwosari-Batureno untuk mepermudah tranportasi dengan biaya yang murah. Pembangunan rel kereta api ini dimulai pada tanggal 17 juni 1864.Mulai saat itulah kereta api mulai beroperasi untuk dimanfaatkan sebagai alat tranportasi untuk angkut hasil panen dari petani dan tranportasi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Fakta menarik dari perusahaan kereta Api milik Belanda adalah, perusahaan ini sudah berkeinginan untuk memiliki sebuah lokomotif uap sejak tiga tahun jalur beroperasi, yaitu tahun 1895. Hal ini&nbsp; disebabkan banyaknya kuda penarik lokomotif yang terjangkit penyakit pada tahun 1899. Akhirnya, pada tahun 1906, perusahaan perkereta apian resmi menandatangani kontrak kerja sama operasional dengan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) hingga pada 1 Mei 1908 perusahan kereta Api milik Belanda resmi mengumumkan telah selesai melakukan pergantian dari tenaga kuda menjadi lokomotif uap. Akibat dari pergantian mesin ini, perusahaan ini melakukan pembangunan jalur kereta api yang pada mulanya dari Halte Benteng Vesterburg menuju Stasiun Jebres dengan melewati Pasar Gede dan menyebrangi Sungai Pepe sampai Sukoharjo, Wonogiri dan Baturetno.<\/p>\n\n\n\n<p>Konsesi baru akhirnya diterbitkan untuk perpanjangan jalur Solo\u2013Wonogiri\u2013Kakap, pada tanggal 9 Agustus 1920. Perpanjangannya diresmikan sejak tanggal 1 April 1922 ini semula tidak hanya menghubungkan Wonogiri dengan kota Solo namun juga mencapai Baturetno sejak 1 Oktober 1923. Berdasarkan surat SS No. 3639 tertanggal 8 Maret 1902, diwacanakan akan dibangun jalur kereta dari Stasiun Jetis menuju Stasiun Tugu (Trenggalek) menghubungkan jalur kereta api Ponorogo\u2013Slahung dengan jalur kereta api Tulungagung\u2013Tugu, serta dari Stasiun Badegan menuju Stasiun Baturetno menghubungkan jalur kereta api Ponorogo\u2013Badegan dengan jalur kereta api Purwosari\u2013Baturetno yang ditujukan untuk mendukung jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa dengan rute Yogyakarta\u2013Wonogiri\u2013Ponorogo\u2013Trenggalek\u2013Tulungagung. yang terwujud hanyalah Tulungagung\u2013Tugu dan Ponorogo\u2013Badegan, namun pada akhirnya rencana itu berhenti total karena Depresi Besar. Kedua jalur ini berakhir riwayatnya karena dibongkar romusa Jepang, dan jalur yang aktif hanyalah Purwosari\u2013Baturetno.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"299\" height=\"205\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2419\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Bangunan Stasiun Jetis pada tahun 2022<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"312\" height=\"179\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-4.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2420\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-4.jpg 312w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-4-300x172.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 312px) 100vw, 312px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Jalur Kereta Api Slahung-Ponorigo<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dinamika Setelah Kemerdekaan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak 1 Mei 1978 lintas Wonogiri\u2013Baturetno ditutup. Soekirlan, Kepala Humas PJKA Eksploitasi Tengah menyatakan bahwasanya jalur kereta api dari Wonogiri menuju Baturetno telah dinonaktifkan sehubungan dengan dimulainya pembangunan Bendung Gajah Mungkur di Wonogiri.&nbsp; Semasa aktifnya, selain mengangkut penumpang juga mengangkut batu gamping untuk memenuhi kebutuhan beberapa pabrik gula seperti Pabrik Gula Tasikmadu, Gondang Baru, Colomadu dan Mojo. Perjalanan kereta api terakhirnya sendiri berangkat dari Stasiun Baturetno pada 30 April 1978 pukul 12.20 WIB dan tiba di Stasiun Wonogiri pada pukul 13.22 WIB. Bisa dilihat betapa pentingnya jalur kereta Api yang menuju ke Baturetno itu sangat berpengaruh dan mampu menopang perekonomian masyarakat di Wonogiri.Seandainya jalur kereta Purwosari ke Baturetno itu di lestarikan dan dibangun diatas Waduk Gajah Mungkur itu merupakan suatu hal yang sangat menarik jadi salah satu ikon pariwisata di daerah Wonogiri hal ini tentu akan menambah pendapatan daerah yang luar biasa dari jalur pariwisata.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jokowi Membangkitkan Jalur Kereta Api&nbsp; Solo-Wonogiri<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah sekian lama jalur kereta api tersebut tidak berfungsi Pada awal tahun 2007 Joko Widodo yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Surakarta menggagas kembali untuk mengaktifkan jalur tersebut sebagai sarana pariwisata yang menyenangkan untuk keluarga. Hal ini didasari keyakinan membangun kembali sektor pariwisata melalui sarana transportasi kereta api Wonogiri Baturetno. Hal tersebut sudah tidak memungkinkan lagi kecuali jika pemerintah mau mengalokasikan anggaran yang besar membuat jembatan kereta api melintasi Waduk Gajah Mungkur.&nbsp; Dari berbagai kendala tersebut akhirnya Jokowi hanya mengaktifkan kembali jalur kereta api dari Solo menuju Wonogiri PP . Sebenarnya Pemerintah Kota Solo menggagas pengoperasian kereta berbahan bakar uap hanya sebagai angkutan wisata dalam kota dengan rute Stasiun Purwosari sampai Stasiun Sangkrah dengan nama kereta api Jaladara. Namun bukan hal yang mudah membuka jalur ini, masalah demi masalah muncul karena kereta ini melintasi jalur utama Kota Surakarta tepatnya di jalan Slamet Riyadi.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"479\" height=\"212\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-5.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2421\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-5.jpg 479w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-5-300x133.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 479px) 100vw, 479px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Pada bulan September 2009 dimulai perbaikan penggantian rel kereta api dimulai dari Stasiun Purwosari hingga Stasiun Wonogiri hal ini dilakukan untuk memperpanjang jalur yang sebelumnya hanya dalam kota kemudian dilanjutkan sampai Wonogiri.&nbsp; Perbaikan meliputi penggantian rel kereta api yang semula menggunakan jenis R25 menjadi R42 dan bantalan kayu diganti menjadi bantalan beton, perbaikan jembatan di BH2, yakni Jembatan Bengawan Solo dan jembatan di BH60 yang berada di wilayah perbatasan Solo-Wonogiri, tepatnya di sekitar Pasar Nguter, Sukoharjo. Dengan adanya penggantian rel kereta tersebut, kereta api nantinya bisa dijalankan dengan kecepatan 60 km\/jam dari sebelumnya hanya 30 km\/jam. Penumpang dari Solo menuju Wonogiri, saat ini dilayani menggunakan KA Fedeer, dan masih menggunakan gerbong biasa sekarang sudah menggunakan KA Feeder yang menggunakan railbus . Perbaikan rel tersebut juga untuk kepentingan Pemerintah Kota Surakarta menjalankan Kereta Api Uap Jaladara atau sering disebut Sepur Kluthuk Jaladara mulai dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Wonogiri.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"269\" height=\"205\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yunita-6.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2422\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Sepur Kluthuk Jaladara<\/p>\n\n\n\n<p>Referensi: Wikipedia dan sumber lainnya.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>PUISI KAMI TENTANG KEMERDEKAAN <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Inilah kami mencurahkan rasa lewat kata dalam untaian bait puisi, turut merayakan dirgahayu kemerdekaan Indonesia tercinta tahun 2022 ini. Semoga menjadi penyemangat menuju Indonesia Emas di masa mendatang. Podcast puisi sebagai pembuka ini adalah tulisan siswa X-09 bernama Farra Putri dan untuk suara dibacakan oleh Ratu Berlianty, siswa kelas X-04. Untuk Indonesia Merdeka.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-video\"><video controls src=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/podcast-puisi-1.mp4\"><\/video><figcaption>Podcast puisi<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>UNTUK INDONESIA MERDEKA<\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Karya : Farra Putri Kelas X 09 (Ekskul Bahasa &amp; Jurnalistik)<\/p>\n\n\n\n<p>Dulu Indonesiaku menangis<br>Dirundung pilu dan gelisah<br>Betapa banyaknya pertumpahan darah<br>Tangisan dan pengorbanan yang tak terhingga<\/p>\n\n\n\n<p>Penjajah begitu keji<br>Merenggut dan merampas<br>Menindas tanpa simpati<br>Tumpah darah menjadi bukti<\/p>\n\n\n\n<p>Debar menjadi kabar<br>Takut dan pilu menjadi banal<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kini Indonesiaku telah merdeka<br>Namun perjuangan kita belum usai<br>Wahai generasi emas penerus bangsa<br>Kobarkan semangat serta bulatkan tekadmu untuk Indonesia<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-7 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"576\" height=\"1024\" src=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/misyayspoetry-576x1024.png\" alt=\"\" data-id=\"1997\" data-full-url=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/misyayspoetry.png\" data-link=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/08\/18\/pojok-literasi\/misyayspoetry\/\" class=\"wp-image-1997\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/misyayspoetry-576x1024.png 576w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/misyayspoetry-169x300.png 169w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/misyayspoetry-768x1365.png 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/misyayspoetry-864x1536.png 864w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/misyayspoetry.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 576px) 100vw, 576px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p>I N D O N E S I A , 9 huruf ajaib yang menjadi inspirasi puisi karya Ibu Yayah Nur Rohayati, S.Pd., M.Pd ini. Sembilan huruf yang seharusnya menjadi pemersatu di tengah kombinasi ribuan warna , suku dan kepercayaan yang kita punya. Cintai nama istimewa sembilan huruf itu dengan terus bersatu, jangan terbang terlalu jauh dari Garuda, ikat erat hati kita dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Dan suatu saat kita dapat betapa indah negara kita ini, bagai naungan hijau, rumah untuk berbagi tangis dan tawa di bawah sinar matahari yang cerah gemilang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>UNITY IN NINE<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>To my beloved nine<br>Various colours we combine<br>Different tribes but we are fine<br>Keep faith not to cross the line<\/p>\n\n\n\n<p>Why don\u2019t we stop to betray<br>Even we choose another way<br>Look! we still have the same day<br>I love you, is what I want to say<\/p>\n\n\n\n<p>You are green leafy shelter<br>Home for sharing grief and laughter<br>Full of species and natural glitter<br>Place where the sun shinning brighter<\/p>\n\n\n\n<p>Nine letters for Indonesia<br>Stating unity in Bhineka<br>Never ever fly from Garuda<br>Strongly tied to Pancasila<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi tanggal 17 Agustus 1945 adalah hari yang istimewa, sebagaimana yang dituangkan dalam puisi karya Nasya Digta Kuncoro , siswa kelas X08. Pengucapan proklamasi sebagai tonggak kemerdekaan Republik Indonesia merupakan sebuah momen yang perlu kita syukuri dan ingat selalu. Sebuah Pagi Tanpa Terlupa. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>PAGI TANPA TERLUPA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Suasana tegang penuh harap<br>Di depan merah putih, kita menghadap<\/p>\n\n\n\n<p>Tepat pada pukul sembilan pagi ini<br>Sekata demi sekata terucap oleh sang pemimpin<br>Perasaan yang tidak dapat ditafsir<br>Mengiringi pembacaan Proklamasi<\/p>\n\n\n\n<p>Semilir anginpun mengetahuinya<br>Rasa bangga menyelimuti suasana<br>Dan akhirnya kita merdeka<br>Segeralah hilang birunya duka<\/p>\n\n\n\n<p>KITA ADALAH INDONESIA! Suarakan lantang di tengah perayaan kemerdakaan ini. Inilah yang ingin diungkapkan oleh ananda dari X-06 , Banu Wardhani Kusuma Astuti.  Semangat yang membanggakan dari generasi muda ini membuat kita begitu yakin kemerdakaan Indonesia akan terjaga selama-lamanya.<\/p>\n\n\n\n<p>TERIAKKAN KITA ADALAH INDONESIA<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini, 17 Agustus.<br>Indonesia memperingati hari lahirnya.<br>Gema merdeka dikumandangkan.<br>Dari segala penjuru negeri ini<\/p>\n\n\n\n<p>77 tahun silam\u2026<br>Indonesia dijajah oleh kaum penjajah.<br>Tak terhitung jiwa gugur di medan pertempuran.<br>Darah segarmu masuk ke dalam sela-sela tanah air<\/p>\n\n\n\n<p>Tak akan sia-sia kau tumpahkan darahmu untuk Indonesia.<br>Karena aku akan menjaga Indonesia selama-lamanya.<br>Berkatmu Indonesia bisa merdeka.<br>Mengepak sayap melesat hingga langit<\/p>\n\n\n\n<p>Kita adalah Indonesia.<br>Dengan suara menggelegar kita berteriak.<br>Menyalakan suara yang lantang.<br>Merdeka, merdeka, merdeka!<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai penutup, simak puisi indah karya siswa X-10 berikut ini. Semua siswa penulis puisi adalah peserta ekstrakurikuler Bahasa dan Jurnalistik SMAN 2 Wonogiri,dengan pembimbing Ibu Yanik, S.Pd. <\/p>\n\n\n\n<p>Merdeka Bangsaku. Terimakasih Pahlawanku. Jaya Negeriku.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-9 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"724\" height=\"1024\" src=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/png_20220816_202707_0000-724x1024.png\" alt=\"\" data-id=\"1987\" data-full-url=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/png_20220816_202707_0000.png\" data-link=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/03\/23\/pojok-literasi\/png_20220816_202707_0000\/\" class=\"wp-image-1987\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/png_20220816_202707_0000-724x1024.png 724w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/png_20220816_202707_0000-212x300.png 212w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/png_20220816_202707_0000-768x1086.png 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/png_20220816_202707_0000-1086x1536.png 1086w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/png_20220816_202707_0000-1448x2048.png 1448w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/png_20220816_202707_0000.png 1587w\" sizes=\"(max-width: 724px) 100vw, 724px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><figcaption class=\"blocks-gallery-caption\">Puisi karya Anggi Sebtya Saputri, Kelas X-10<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p>&#8216;<strong>JEJAK KAKI MIMPI<\/strong>&#8216; <strong>Buku Antologi Puisi Karya Guru dan Karyawan SMA Negeri 2 Wonogiri<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai sebuah upaya mendukung Gerakan Literasi Sekolah, guru dan karyawan SMAN 2 Wonogiri menulis puisi dan menerbitkannya dalam sebuah buku antologi. Dengan kegiatan ini, tim literasi sekolah berharap guru dan karyawan dapat memberi contoh dan menyemangati seluruh siswa SMAN 2 Wonogiri untuk mengembangkan kemampuan literasi mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaikan sebuah masterpiece, 75 puisi dalam buku bersampul merah putih ini, merupakan karya istimewa para guru dan karyawan SMAN 2 Wonogiri. Dikatakan istimewa karena kebanyakan dari para penulis ini bukanlah pujangga puisi, bahkan beberapa menganggap, ini merupakan pengalaman pertamanya. Hal ini menunjukkan bahwa guru dan karyawan sangat mendukung komitmen sekolah dalam menguatkan Gerakan Literasi Sekolah yang telah dicanangkan oleh pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Buku setebal 98 halaman ini dibagi dalam 5 bab. Pada bab 1, yang diberi judul Jejak Sang Juara, berisi sepuluh puisi terbaik karya guru dan karyawan. Bagian 2, Senandika Smandagiri berisi beberapa puisi yang mengutarakan suara hati guru dan karyawan mengenai kegelisahan dan opini merespons keadaan sekitar mereka. Misalnya puisi karya Bapak Sumanto, S.Pd., M.Pd yang berjudul Jika Pergimu Luka, mengangkat suara hati beliau saat tiba-tiba Ujian Nasional ditiadakan padahal semua siswa sudah mempersiapkannya. Ada juga beberapa puisi lain yang mengisahkan suara hati jika kelak Pensiun, suasana Sahur Terindah atau menggambarkan keagungan Pesona Negeriku.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagian 3 diberi judul Asmaraloka Sajak Rindu berisi beberapa puisi yang menyatakan sajak kerinduan akan berbagai hal. Ada yang Rindu Sekolah, Rindu Kampung Halaman, Rindu Pada Sahabat, ada pula yang menyatakan kerinduan pada Ayah atau Bunda nun jauh di kampung halaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Buku Jejak Kaki Mimpi ini dicetak ber-ISBN bekerjasama dengan Penerbit Kun Fayakun yang merupakan penerbit resmi anggota Ikapi. Buku ini dipajang di etalase depan perpustakaan SMAN 2 Wonogiri bersama dengan karya siswa lainnya. Tim literasi sekolah sangat bersyukur bahwa buku ini selesai disusun dengan baik berkat dukungan semua pihak. &nbsp;Sekolah kami percaya bahwa Literasi yang kuat akan membuat negara ini menjadi lebih gemilang. Salam Literasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dersik, Deru Derana merupakan judul Bab ke-4. Dersik dari kata gemerisik, Deru dari kata menderu dan derana artinya suatu rasa tahan dan tabah dalam menghadapi sesuatu yang berat, dalam hal ini pandemi Covid 19. Beberapa guru dan karyawan menulis puisi menyatakan gemerisik kegelisahan hati yang harus tabah saat sekolah harus berubah selama dua tiga tahun ini akibat pandemi yang tak kunjung usai. Sedangkan bagian terakhir, berjudul Bias Asa Arunika, menggambarkan cercah harapan sebagaimana bias arunika. Dalam artian harfiah, arunika adalah cahaya matahari pagi setelah terbit yang memberi semangat baru. Demikian juga puisi \u2013 puisi pada bagian ini, berisi semangat untuk bangkit maju melawan pandemi dengan harapan baru untuk lebih maju.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"472\" src=\"http:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/01-display-1024x472.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1536\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/01-display-1024x472.jpeg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/01-display-300x138.jpeg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/01-display-768x354.jpeg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/01-display-1536x708.jpeg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/01-display.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Pojok Display Buku Karya Guru, Karyawan dan Siswa SMAN 2 Wonogiri<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"545\" height=\"306\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1391\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/1.png 545w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/1-300x168.png 300w\" sizes=\"(max-width: 545px) 100vw, 545px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Selamat Datang di Pojok Literasi Digital SMA Negeri 2 Wonogiri.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pojok Literasi Digital merupakan salah satu wadah berupa laman digital untuk mengembangkan kecakapan literasi seluruh warga SMAN 2 Wonogiri. Platform ini dikembangkan dalam upaya meningkatkan literasi di masa pandemi Covid-19 yang belum memungkinkan untuk pertemuan tatap muka. Pojok Literasi Digital dapat dengan mudah diakses dimana saja dan kapan saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Pojok Literasi ini akan dimuat berbagai kabar mengenai kegiatan \u2013 kegiatan literasi yang dilaksanakan di SMA N 2 Wonogiri. Selain itu, secara berkala, akan ditampilkan pula beberapa karya siswa, guru dan karyawan. Karya \u2013 karya yang akan dimuat adalah karya pilihan dari tim literasi sekolah bisa berupa puisi, cerita pendek, geguritan, review buku\/film, essay, draft penelitian, video pendek, tari dan bentuk seni budaya lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Diharapkan dengan adanya Pojok Literasi Digital ini siswa, guru dan karyawan SMAN 2 Wonogiri akan semakin termotivasi berkarya, meningkatkan kecakapan literasi. Diharapkan pula orang tua siswa dan masyarakat umum dapat pula mengamati dan menikmati perkembangan literasi putra putri mereka saat bersekolah di SMAN 2 Wonogiri dalam bentuk platform digital website.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai landasan, semua kegiatan literasi di SMA Negeri 2 Wonogiri ini dilaksanakan berdasar Panduan Penguatan Literasi dan Numerasi yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 2021. Penguatan literasi adalah salah satu kunci untuk menuju Generasi Emas bangsa Indonesia di masa mendatang dan SMAN 2 Wonogiri berkomitmen keras untuk selalu berusaha mewujudkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mari kita jelajahi karya \u2013 karya siswa, guru dan karyawan SMAN 2 Wonogiri di Pojok Literasi Digital ini. Menajamkan kognisi, Melambungkan imaginasi. Menuju Generasi Hebat Berkarakter Kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>Salam Literasi.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Sebungkus CiLok Untuk Kakakku<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><br><\/strong>Oleh  : Mayllika Ardiva Pramesti<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Juara 1 Lomba Menulis Pentigraf<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Festival Literasi Daring SMAN 2 Wonogiri<\/p>\n\n\n\n<p><br>Hi, Sahabat  Pojok Literasi, hari ini ayo kita baca sebuah cerita karya siswa SMAN 2 Wonogiri yang dijamin asik. Nama penulisnya adalah Maylika Ardiva, sudah sejak kecil suka menulis. Maylika pernah juga berprestasi di ajang menulis puisi FLS (Festival LiterasiSekolah) Sukoharjo pada tahun 2019.<br>Cerita Sebungkus Cilok Untuk Kakakku ini menjadi juara 1 di kegiatan festival literasi yang diadakan di SMAN 2 Wonogiri tahun 2021 lalu. Judul cerita Maylika ini kemudian dijadikan judu lbuku yang sekarang telahterbit. Buku Sebungkus Cilok Untuk Kakakku merupakan antologi atau kumpulan karya cerita yang ditulis oleh beberapa siswa dan guru SMAN 2 Wonogiri. Yuk kita simak salah satu ceritanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"693\" height=\"498\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/litearsi-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1493\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/litearsi-1.jpg 693w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/litearsi-1-300x216.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 693px) 100vw, 693px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Usai membantu Ibu mencuci piring seperti biasa, aku kembali berjibaku dengan tugas \u2013 tugas dari sekolah yang cukup menguras pikiran ini. Tambah lagi ada Gandhi, adikku, yang menungguku untuk minta diajari tugasnya. Aku kesulitan membagi waktu untuk ini. Sudah berulang kali aku minta saran. Ibu berkata untuk mencoba menjalaninya, sekalian belajar tentang time management sarannya. Kali ini tugasku sudah selesai tapi aku harus segera mengangkat jemuran karena di luar mendung. Ibu sedang tidur, tidak enak kalau harus membangunkannya hanya karena perkara jemuran. Aku melihat Ibu berbaring di ranjangnya. Aku capek, tapi seseorang pernah berkata bahwa kalau kamu capek, orang tuamu lebih capek. Meski jemuran yang ada di tanganku ini berat, pasti lebih berat usaha Ayah dan Ibu untuk membahagiakan aku dan Gandhi di situasi pandemi seperti ini. Sementara Gandhi sedari tadi mengomeliku karena aku tidak segera mengajarinya.Berulang dia protes pengen main keluar. Kau tidak tau saja Gan, seberapa pusingnya kepalaku ini memikirkan pekerjaan rumah, tugas sekolah, dan tentu saja mengajarimu, omelku dalam hati. Tapi aku ingat Ibu pernah berkata,\u201cGandhi baru tujuh tahun, kak. Dia tidak suka di kejar-kejar sesuatu begitu. Kalau mau, dia pasti mengerjakan, jadi pas dia mau, kamu jangan lupa dampingin.\u201d<br>Selepas melipat beberapa jemuran yang tadi, aku menghampiri Gandhi yang duduk di kursi tamu dengan banyak buku di depannya. Bisa kulihat dari wajahnya kalau dia tidak suka menunggu. Aku menghela napas pelan. Harus mengumpulkan banyak sekali sabar kalau ingin mengajarinya. Tapi tidak apa, hitung-hitung belajar bersikap sabar kepada adik sendiri karena aku sudah sering memarahinya cuma sebab koleksi lego punyaku yang sering ia ambil diam-diam. Aku membuka bukunya, memberikan pertanyaan tentang tugas apa saja yang harus diselesaikan hari ini lalu mengajarinya seperti biasa. Hingga pada akhirya Ibu terbangun karena mendengar suara teriakan Gandhi yang sungguh kencang sekali. Gandhi ngambek, mogok mengerjakan tugas matematikanya. Kata Ibu aku harus harus sabar, sudah. Jangan kasar, sudah. Didampingi, sudah. Lalu aku harus apa kalau phobia matematikanya ini kambuh? Selepas marah-marah dan berteriak karena enggan mengerjakan tugas matematikanya, ia berjalan dengan kasar menuju kamar, mengambil masker, menemui Ibu untuk meminta uang jajan dan entah pergi kemana. Mungkin Gandhi pergimain, karena sedari tadi ia bilang pengen main. Aku menatap Ibu disampingku, agak keberatan. \u201cNggak papa, nanti dia pulang. \u201dIbu ini bagaimana sih, kan di luar mendung,\u201d kata Ibu. Batinku menggerutu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-11 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"267\" height=\"257\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/literasi-2.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1492\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/literasi-2.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/07\/pojok-literasi\/literasi-2\/\" class=\"wp-image-1492\"\/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p>Gandhi pulang pukul lima. Syukurnya hujan sudah reda. Aku ingin marah tapi Ibu melarang. Aku sedang membuat teh hangat karena udaranya begitu dingin, Gandhi tersenyum di sampingku. Entah ia ingin teh juga atau bagaimana, aku buatkan saja teh untuknya. Gandhi sudahb erlari menuju kamarnya. Kalau tidak main game, ia pasti baca buku. Heran juga, Gandhi yang hidup di jaman seperti ini kok masih suka juga baca buku. Ya meski aku tahu, bukunya hanya komik, tapi kan yasudahlah. Lalu aku menaruh teh Gandhi di meja dekat tv, ia sudah hafal aku akan menaruh tehnya disana. Aku duduk di meja belajar dan menaruh teh dekat tempat pensil. Ada sesuatu yang menarik perhatianku, aku menemukan satu bungkus cilok yang terselip kertas putih di bawahnya. Aku menarik kertas itu dan menemukan tulisan Gandhi yang berantakan tapi cukup bagus untuk anak seusianya. Tertulis: Kak, maafin Gandhi sudah marah tadi. Gandhi tau Kakak capek. Semangat belajarnya, Kak. Ini cilok buat Kakak. Tadi Gandhi main dan liat tukang cilok keinget Kakak seharian harus mengerjakan ini itu. Makasihnya ke Ibu , jangan ke Gandhi. Soalnya uangnya dari Ibu. Aku membawa cilok itu ke kamar Gandhi dan menemukannya sedang baca buku. Aku merangkulnya dari belakang dan ia tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"534\" height=\"319\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/literasi-3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1491\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/literasi-3.jpg 534w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/literasi-3-300x179.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 534px) 100vw, 534px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Mayllika Ardiva Pramesti saat ini merupakan siswa kelas X MIPA 7 di SMA Negeri 2 Wonogiri. Lika sudah menulis sejak kelas 8 SMP. Ia suka menulis karena senantiasa ingat kata &#8211; kata Pak Pramudya Ananta Toer. \u201cMenulis adalah bekerja untuk keabadian.\u201d Itu karena tulisan kita bisa dibaca lama sekali, bahkan jika nanti kita sudah tidak ada di dunia ini. Selain gemar menulis dan membaca, ia juga suka mendengarkan musik.<\/p>\n\n\n\n<p>Pentigraf yang berjudul \u201cSebungkus Cilok Untuk Kakakku\u201d ini terinspirasi dari cuitan teman twitternya, Adis, yang diberi snack oleh adiknya di suatu hari. Inspirasinya menulis didapat dari hal &#8211; hal kecil di sekitarnya dan juga dari penulis &#8211; penulis Indonesia kesukaannya seperti Rintik Sedu, Leila S. Chudori dan banyak lagi. Salah satu karya puisinya pernah menjuarai Festival Literasi Sekolah Kabupaten Sukoharjo di tahun 2019. Kamu bisa menghubungi Lika lewat Email (mayllikaap@gmail.com) atau Instagram (@likalikuyy).<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-13 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"391\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/guru-penggerak-5-1024x391.png\" alt=\"\" data-id=\"1463\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/guru-penggerak-5.png\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/guru-penggerak-5\/\" class=\"wp-image-1463\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/guru-penggerak-5-1024x391.png 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/guru-penggerak-5-300x114.png 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/guru-penggerak-5-768x293.png 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/guru-penggerak-5.png 1164w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<h1 class=\"has-text-align-center wp-block-heading\"><strong>AKSI NYATA MODUL 1.4<\/strong><\/h1>\n\n\n\n<h1 class=\"has-text-align-center wp-block-heading\"><strong>BUDAYA POSITIF<\/strong><\/h1>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\"><strong>&nbsp;<\/strong><\/h1>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Oleh Anggrit Yusnanto<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">SMA Negeri 2 Wonogiri<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">CGP Angkatan 4 Kabupaten Wonogiri<\/p>\n\n\n\n<ol><li><strong>Latar Belakang<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\">Budaya positif sekolah merupakan nilai dan keyakinan yang dibangun dalam jangka waktu lama yang tercermin dalam sikap keseharian di kelas maupun sekolah. Dengan budaya positif mendukung terciptanya kenyamanan dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid sehingga dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila. Untuk membangun budaya positif yang berpihak pada murid adalah mengembangkan visi sekolah dan melihat hal hal positif yang sudah dicapai sekolah. Hal ini memberikan landasan untuk membangun visi sekolah bersama. Dalam membangun budaya positif membutuhkan dukungan serta kerjasama dari semua pihak. Konsisten serta berkelanjutan dalam membangun budaya positif baik di kelas maupun sekolah. Proses menciptakan budaya positif adalah nilai positif dalam budaya lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>Menciptakan lingkungan atau suasana yang positif di sekolah tidak lepas dari kenyamanan, keamanan, dan ketenangan baik dalam mengajar sebagai pendidik,&nbsp; proses belajar sebagai siswa, dan tugas sebagai karyawan atau tata usaha. Semangat dan kebahagiaan dalam tugas maupun belajar bagi siswa akan muncul dengan sedirinya jika suasana positif hadir di lingkungan sekolah, apalagi jika lingkungan positif di sekolah dapat dituangkan dalam sebuah visi sekolah maupun visi diri sebagai pendidik.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa hal yang dilaksanakan dalam menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah antara lain memperbaiki komunikasi dan kolaborasi dengan atasan, rekan kerja, dan siswa di dalam setiap kegiatan sekolah. Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, diskusi, tanya jawab, dan memberi kesempatan siswa untuk praktik dan membiasakan dan melatih keberanian siswa dengan memberi reward. Sapa salam senyum sopan merupakan kebiasaan yang harus selalu dilatih.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesuatu yang baik pasti akan menghasilkan pengaruh yang positif, coba kita gambarkan sebagai pendidik anak didik kita belajar sesuai dengan potensinya, belajar karena tuntutan yang baik bukan tuntutan, kesadaran dan tanggungjawab akan muncul dengan sendirinya dimana anak didik sudah merasa nyaman dan senang dengan proses pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Pendidik harus bisa menjadi aktor yang hebat, dimana saat tertentu harus bisa menjadi orang tua mereka, dan kadang harus menyesuaikan untuk menjadi teman mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>2. <strong>Deskripsi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Disiplin positif yaitu menanamkan dalam diri kita untuk mempercayai nilai nilai yang diyakini tanpa terpengaruh hukuman atau paksaaan dari pihak mana pun, sehingga dapat berpengaruh untuk jangka panjang karena disiplin positif itu muncul dari dalam diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Posisi kontrol ada 5 yaitu penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau\/ monitor dan manager. Manajer merupakan&nbsp; posisi&nbsp; di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri, mempersilahkan murid mempertanggungjawabkan perbuatannya, murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>5 Kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan cinta dan kasih sayang, kebutuhan penguasaan, kebutuhan kebebasan dan kebutuhan kesenangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan membaca, mempelajari dan mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia maka perilaku positif dapat dimulai dengan kegiatan maupun solusi untuk memenuhi kebutuhan dengan cara yang positif juga.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesepakatan kelas menuju keyakinan kelas yang telah disepakati bersama membuat murid lebih semangat dan tergerak untuk melaksanakan keyakinan yang telah disepakati, diluar &nbsp;peraturan sekolah yang sudah ditetapkan. Kelebihan keyakinan kelas daripada peraturan yang telah ada antara lain keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif, semua warga kelas hendaknya ikut berkotribusi dalam membuat keyakinan kelas berupa pendapat, ide dan saran. Keyakinan kelas hendaknya mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas danbersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui Restitusi ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Tujuan restitusi adalah disiplin positif, yang disiplin ini. Penekanannya bukan pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai.<\/p>\n\n\n\n<p>3. <strong>Ide\/ gagasan yang muncul<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Proses pembelajaran selama pandemi covid 19 secara tidak langsung membawa pengaruh lebih besar untuk membangun dan menumbuhkan budaya positif di sekolah yang mungkin anak didik sudah terlena karena kenyamanan yang ditimbulkan dalam suatu proses pembelajaran jarak jauh. Kolaborasi antar guru, komunikasi yang baik dengan komunitas yang lebih luas serta penekanan empati dapat berdampak positif terhadap hasil belajar murid. Budaya positif yang diharapkan tumbuh dari dalam diri murid tanpa paksaan dari luar. Budaya positif sekolah yang sudah berjalan dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Untuk membangun budaya positif membutuhkan dukungan serta kerjasama dari semua pihak. Konsisten serta berkelanjutan dalam membangun budaya positif baik di kelas maupun sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait hal diatas gagasan positif yang muncul terkait pelaksanaan disiplin positif di sekolah adalah <strong><em>Segitiga restitusi<\/em> <\/strong>, solusi permasalahan penilaian dimana ada beberapa siswa yang terlambat mengikuti pembalajaran tatap muka terbatas dikarenakan kesalahan dalam mengatur waktu \/ disiplin waktu. Berikutnya adalah <strong><em>Kesepakatan kelas<\/em><\/strong> untuk membentuk sebuah <strong><em>Keyakinan kelas<\/em>, <\/strong>memberikan motivasi di awal pembelajaran bahwa bahwa disiplin positif yang melibatkan siswa secara langsung dalam merumuskan dapat meningkatkan kesadaran siswa dan siswa akan saling mengingatkan satu sama lain jika ada teman yang melanggar kesepakatan kelas tersebut, sehingga dalam berjalanya waktu, bertahap, dan berkesinambungan akan menjadi sebuah keyakinan kelas, dimana didalamnya menjadi &nbsp;kesepakatan yang melibatkan guru dan dibuat oleh siswa dan untuk siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>4. <strong>Pembelajaran dan pengalaman dalam bentuk aksi nyata<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Aksi nyata pertama adalah Demonstrasi Konstektual dalam bentuk Budaya Positif pelaksanaan Segitiga Restitusi&nbsp; terkait pelanggaran disiplin positif yang dilakukan oleh siswa<\/p>\n\n\n\n<p>Sosialisasi CGP modul 1.1 s.d. 1.4 dimana sasaran diseminasi adalah 8 perwakilan rekan guru yang diawali sambutan oleh Bapak Kepala SMA Negeri 2 Wonogiri Sumanto, S.Pd., M.Pd. dan pembukaan sosialisasi oleh Bapak Wardoyo, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, selanjutnya penyampaian materi dan yang terakhir tanggapan positif dari peserta.Aksi nyata yang terakhir adalah Kesepakatan dan keyakinan kelas bersama anak didik tingkat X MIPA\/IPS\/Bahasa, sebagai contoh adalah kelas X MIPA 7 kelas B dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas 50%.<\/p>\n\n\n\n<p>5. <strong>\u2018Foto Bercerita\u2019 dari pelaksanaan aksi nyata<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Demonstrasi Konstektual dalam bentuk Budaya Positif pelaksanaan Segitiga Restitusi<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-15 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"579\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/1-1024x579.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1464\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/1.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/1-11\/\" class=\"wp-image-1464\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/1-1024x579.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/1-300x170.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/1-768x434.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/1.jpg 1143w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"480\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/2-1024x480.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1465\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/2.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/2-12\/\" class=\"wp-image-1465\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/2-1024x480.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/2-300x141.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/2-768x360.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/2.jpg 1305w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"485\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/3-1024x485.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1466\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/3.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/3-12\/\" class=\"wp-image-1466\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/3-1024x485.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/3-300x142.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/3-768x364.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/3.jpg 1296w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><em>Sosialisasi CGP modul 1.1 s.d. 1.4<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-17 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1295\" height=\"650\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/4-1024x514.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1467\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/4-11\/\" class=\"wp-image-1467\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/4-1024x514.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/4-300x151.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/4-768x385.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/4.jpg 1295w\" sizes=\"(max-width: 1295px) 100vw, 1295px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"496\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/5-1024x496.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1468\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/5-10\/\" class=\"wp-image-1468\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/5-1024x496.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/5-300x145.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/5-768x372.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/5.jpg 1279w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"486\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/6-1-1024x486.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1472\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/6-1.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/6-1-5\/\" class=\"wp-image-1472\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/6-1-1024x486.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/6-1-300x142.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/6-1-768x365.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/6-1.jpg 1327w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"467\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/7-1-1024x467.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1473\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/7-1.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/7-1-3\/\" class=\"wp-image-1473\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/7-1-1024x467.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/7-1-300x137.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/7-1-768x350.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/7-1.jpg 1321w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"473\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/17-1024x473.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1474\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/17.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/17-3\/\" class=\"wp-image-1474\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/17-1024x473.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/17-300x139.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/17-768x355.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/17.jpg 1334w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><em>Kesepakatan dan keyakinan kelas X MIPA 7 kelas B dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas 50%.<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-19 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/8-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1475\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/8-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/8-8\/\" class=\"wp-image-1475\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/8-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/8-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/8-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/8-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/8-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/9-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1476\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/9-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/9-8\/\" class=\"wp-image-1476\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/9-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/9-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/9-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/9-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/9-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/10-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1477\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/10-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/10-6\/\" class=\"wp-image-1477\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/10-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/10-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/10-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/10-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/10-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-21 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/11-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1478\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/11-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/11-7\/\" class=\"wp-image-1478\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/11-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/11-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/11-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/11-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/11-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/12-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1479\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/12-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/12-4\/\" class=\"wp-image-1479\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/12-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/12-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/12-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/12-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/12-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/13-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1480\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/13-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/13-6\/\" class=\"wp-image-1480\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/13-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/13-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/13-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/13-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/13-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-23 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/14-1-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1482\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/14-1-3\/\" class=\"wp-image-1482\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/14-1-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/14-1-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/14-1-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/14-1-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/14-1-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_090122_115-768x1024.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1484\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/img_20220207_090122_115\/\" class=\"wp-image-1484\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_090122_115-768x1024.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_090122_115-225x300.jpg 225w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_090122_115-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_090122_115-1536x2048.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_090122_115-1024x1365.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_090122_115-scaled.jpg 1920w\" sizes=\"(max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_085906_634-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1485\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_085906_634-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/11\/18\/pojok-literasi\/img_20220207_085906_634\/\" class=\"wp-image-1485\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_085906_634-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_085906_634-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_085906_634-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_085906_634-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/IMG_20220207_085906_634-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p>6. <strong>Refleksi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Refleksi yang dilakukan terkait budaya positif adalah Pembelajaran yang efektif belum dilaksanakan dikarenakan sekarang ini adalah masih dengan jadwal PTMT sehingga dalam membuat keyakinan kelas hanya 50 persen murid yang hadir setiap sesinya.&nbsp; Meskipun begitu, setelah pembelajaran efektif akan dimulai maka akan nampak keberhasilan dari kesepakatan kelas yang menerapkan budaya positif.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah melaksanakan kegiatan, refleksi ini saat penting untuk memperbaiki kegiatan selanjutnya. Kita harus melihat suatu kekuatan aset, kelebihan aset yang sudah ada dan terlaksana dari suatu sekolah. Komunikasi yang baik menjadi salah satu faktor untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, merdeka belajar. Guru sebagai \u2018pamong\u2019 yang menuntun dan memberi arahan murid untuk menemukan kemerdekaan belajar.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>LAPORAN HASIL AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Heni Sarastri &#8211; CGP Angkatan 4<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>SMA Negeri 2 Wonogiri Kabupaten Wonogiri<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\">A. <strong>LATAR BELAKANG<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ki Hajar Dewantara (KHD) mengingatkan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.Oleh sebab itu, pendidik hanya dapat &#8220;menuntun&#8221; &nbsp;tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya)hidup &nbsp;dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam proses menuntun tersebut, anak &nbsp;diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang unik, akan tetapi guru sebagai pamong harus memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya . Guru sebagai pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Karena itu, sangat penting bagi guru untuk dapat &nbsp;mengembangkan budaya positif di sekolah &nbsp;agar &nbsp;dapat menumbuhkan motivasi intrinsik &nbsp;dalam diri murid-muridnya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab &nbsp;dan &nbsp;berbudi pekerti luhur.<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan membangun &nbsp;budaya positif di sekolah adalah menumbuhkan karakter anak. Adapun karakter yang diharapkan menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan nasional kita adalah seperti yang tercantum dalam profil pelajar pancasila yakni: Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Kreatif, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis dan Mandiri.&nbsp;Budaya positif di sekolah &nbsp;akan dapat menumbuhkan karakter positif &nbsp;yang bukan hanya mendorong murid untuk sukses secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga untuk menanam moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Di SMA Negeri 2 Wonogiri mempunyai &nbsp;program sekolah yang bertujuan untuk menumbuhkan karakter murid. &nbsp;Salah satu budaya positif yang telah diterapkan yaitu budaya 5S yaitu senyum,sapa,salam,sopan dan santun. Selain itu juga program literasi &nbsp;dengan tujuan untuk menumbuhkan karakter kritis dan gemar membaca pada murid. Sebagai pendidik berupaya mengembangkan budaya positif&nbsp; 5S dimulai dari kelas terlebih dahulu. &nbsp;Di SMA Negeri 2 Wonogiri dalam pembentukan karakter dapat mengembangkan karakter tanggung &nbsp;jawab siswa melalui penerapan budaya positif yang dimulai dari kelas-kelas dengan cara &nbsp;membuat kesepakatan kelas atau keyakinan kelas, memperbaiki posisi kontrol guru yang sesuai dengan kebutuhan siswa, dan penerapan disiplin positif di kelas. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Budaya positif&nbsp;dikelas bertujuan untuk mewujudkan aktivitas belajar yang menyenangkan dan bermakna, dan dapat mendorong prestasi belajar dan kompetensi murid menjadi lebih baik.Budaya positif&nbsp;ini dapat terwujud dari kesepakatan antara guru dengan murid dan bisa juga dengan warga&nbsp;sekolah&nbsp;lainnya Kita sebagai pendidik harus memiliki&nbsp;nilai guru&nbsp;yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid semua aspek tersebut harus dimiliki oleh seorang&nbsp;guru. Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas kita selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat memerdekakan dan memandirikan murid, bagaimana dan mengapa? Melalui serangkaian riset dan bersandar pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena&nbsp;itu&nbsp;diperlukan&nbsp;posisi kontrol guru&nbsp; sebagai manager dalam menerapkan&nbsp;budaya positif&nbsp;disekolah. Untuk &nbsp;menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah&nbsp;adalah&nbsp;dengan membangun&nbsp;komunikasi yang baik dibarengi keteladanan&nbsp;bagi orang yang diajak&nbsp;untuk&nbsp;melakukan hal yang serupa&nbsp;dengan&nbsp;kita atau paling tidak memberikan dukungan.<\/p>\n\n\n\n<p>B. <strong>PENERAPAN BUDAYA POSITIF<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Adapun penerapan budaya positif yang telah dilaksanakan di &nbsp;kelas&nbsp; yaitu :<\/p>\n\n\n\n<ol><li>Mengembangkan budaya 3S menjadi 5S di Kelas<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Di SMA Negeri 2 Wonogiri sebenarnya sudah lama menerapkan budaya positif seperti 3S yaitu Senyum, Salam, Sapa. Seiringnya berjalannya waktu tulisan 3S yang ditempel di tembok Gedung sekolah ini mulai hilang. Jadi saya berusaha dimulai dari pembelajaran di kelas kembali memberikan pemahaman pada murid tentang&nbsp; budaya 3S ini untuk dikembangkan menjadi 5S yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun.<\/p>\n\n\n\n<p>2. Membuat Kesepakatan kelas<\/p>\n\n\n\n<p>Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk &nbsp;membantu guru &nbsp;dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. &nbsp;Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, &nbsp;tapi juga harapan murid terhadap guru. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pada minggu pertama Semester Genap,&nbsp; melalui WAG dengan menanyakan &nbsp;kendala siswa selama PJJ yang dilaksanakan pada Semester Gasal, Harapan siswa pada pelaksanaan PJJ Semester Genap &nbsp;dan membuat kesepakatan kelas melalui google form dan percakapan di WAG kelas. Guru&nbsp; menanyakan seperti apakah kelas impian&nbsp; yang mereka inginkan? Kesepakatan yang disusun perlu mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan, dapat diperbaiki &nbsp;dan dikembangkan secara berkala. Dalam pembuatan keyakinan kelas perlu adanya partisipasi penuh dari siswa dan pendapat siswa sehingga keyakinan kelas yang telah dibentuk dapat diterapkan oleh siswa.&nbsp;Tidak ada hukuman ataupun reward ketika mereka melanggar ataupun melaksanakan karena pada dasarnya keyakinan kelas ini terbentuk atas kesadaran siswa dan tidak ada unsur paksaan dari guru. Guru juga menguatkan bahwa kesepakatan kelas ini adalah komitmen antara siswa dan guru, sehingga siapapun &nbsp;yang melanggar maka hakikatnya adalah melanggar komitmennya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>3. Mengembangkan budaya positif&nbsp; melalui pembiasaan literasi<\/p>\n\n\n\n<p>Budaya positif sekolah&nbsp;ini berisi kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasaan&nbsp;positif&nbsp;ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk pada diri murid.&nbsp; Sebagai pendidik saya memberikan motivasi murid untuk dapat &nbsp;mewujudkan Gerakan Literasi sekolah (GLS) bertujuan agar siswa memiliki minat baca sehingga keterampilan membaca akan meningkat dengan cara mengajak murid untuk membuat pojok baca di kelas XI Bahasa. Hal ini dilakukan dengan bekerjasama dengan Kepala Perpustakaan dan pustakawan di sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>4. Melaksanakan posisi kontrol guru dan segitiga restitusi<\/p>\n\n\n\n<p>Hubungan guru dan murid adalah faktor penting dalam membangun budaya sekolah, karena &nbsp;berpengaruh pada kualitas pendidikan di Sekolah. Penting bagi guru untuk memahami bagaimana harus menempatkan posisi kontrol &nbsp;saat berhadapan dengan murid. Dalam komponen kelas, posisi guru dapat dikatakan sebagai penggerak utama. &nbsp;Posisi kontrol guru dalam proses belajar mengajar yang baik adalah sebagai guru manager.Setelah kesepakatan kelas dibuat guru melakukan komunikasi pada siswa &nbsp;dan yang masih tidak mengikuti PJJ dan tidak mengumpulkan tugas selama mereka &nbsp;Belajar Dari Rumah. Hal ini dapat dilakukan praktik segitiga restitusi pada murid yang melanggar kesepakatan atau keyakinan kelas. Di samping itu sebagai pendidik diharapkan mengetahui kebutuhan dasar murid. Restitusi sebuah cara menanamkan disiplin positif &nbsp;pada murid. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004) Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"364\" height=\"262\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1496\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-1.jpg 364w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-1-300x216.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 364px) 100vw, 364px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"246\" height=\"212\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1497\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Ada 5 Kebutuhan dasar manusia &nbsp;karena seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Guru memanggil siswa untuk menanyakan alasan &nbsp;mengapa siswa tersebut masih melanggar kesepakatan kelas yang sudah dibuat berdasarkan keinginanya sendiri. Guru juga akan bertanya tentang harapan murid dalam PTMT, dan bersama siswa membuat kesepakatan untuk langkah perbaikan. Tujuannya adalah agar murid merasa didengarkan dan tumbuh &nbsp;disiplin dari dalam diri. Posisi kontrol guru yang demikian &nbsp;akan menumbuhkan motivasi intinsik &nbsp;dalam merubah perilaku untuk memperbaiki dirinya. Posisi kontrol seperti inilah yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru dapat mempraktikkan segitiga restitusi agar permasalahan murid dapat teratasi dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p>C. <strong>HASIL AKSI NYATA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Keberhasilan dalam penerapan budaya positif adalah sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<ol type=\"1\"><li>Rasa tanggung siswa dalam melaksanakan tugas sebagai salah satu kesepakatan kelas&nbsp; menjadi meningkat<\/li><li>&nbsp;Dapat melaksanakan pembiasaan literasi dengan baik karena didukung adanya pojok baca di kelas yang mereka desain sendiri<\/li><li>Keaktifan dalam belajar meningkat secara daring maupun Pembelajaran Tatap Muka Terbatas<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Hasil aksi nyata menunjukkan adanya peningkatan terhadap kepatuhan siswa dalam &nbsp;melaksanakan aturan yang dibuatnya sendiri dalam &nbsp;kesepakatan kelas. &nbsp;Hal ini terlihat dari semakin banyaknya siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran jarak jauh melalui &nbsp;Classroom, WhatsApp Grup Kelas, dan &nbsp;juga PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas).&nbsp;Partisipasi tersebut juga terlihat dalam pengumpulan tugas &nbsp;di kelas XI Bahasa yaitu 80% siswa. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah termotivasi secara intrinsik untuk lebih bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya. Penugasan mandiri melalui PJJ dapat dikerjakan dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Literasi dapat dilakukan sebelum PTMT dilaksanakan pada&nbsp; pagi hari 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>D. <strong>PEMBELAJARAN DAN PENGALAMAN&nbsp; DARI AKSI NYATA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pengalaman yang saya&nbsp; diperoleh sebagai calon guru penggerak dalam aksi nayata modul 1.4 &nbsp;&nbsp;adalah :<\/p>\n\n\n\n<ol type=\"1\"><li>Dapat melaksanakan segitiga restitusi terkait pada pelanggaran disiplin positif yang dilakukan murid.<\/li><li>Penerapan budaya positif di kelas yaitu peningkatan dalam melaksanakan literasi dengan membaca buku yang tersedia pada pojok baca&nbsp; kelas XI BB. Literasi ini dilakukan ketika PTMT dengan memanfaatkan buku perpustakaan<\/li><li>Membuat kesepakatan kelas menuju pada keyakinan kelas XI BB dan&nbsp; disiplin positif terbukti dapat menimbulkan motivasi intrinsik murid untuk aktif terlibat dalam pembelajaran, mengumpulkan tugas &nbsp;dan melaksanakan kesepakatan kelas sehingga dapat mengembangkan karakter tanggung jawab dalam diri murid.<\/li><li>&nbsp;Melaksanakan desiminasi Pendidikan Guru Penggerak yaitu Sosialisasi pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Budaya Positif yang didukung oleh Bapak Kepala Sekolah , Wakil Kepala Sekolah, Bapak ibu guru, dan karyawan SMA Negeri 2 Wonogiri.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Pelaksanaan aksi nyata ini juga masih menemui kendala, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol type=\"1\"><li>Sebagian murid masih enggan mengerjakan tugas dengan berbagai alasan, dan bahkan karena lupa mengerjakan tugas PJJ atau PTMT<\/li><li>Murid kurang aktif dalam pembelajaran jadi guru harus berusaha melakukan komunikasi secara langsung PTMT maupun melalui WAG dan menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan agar murid lebih &nbsp;bersemangat belajar meskipun masih dalam keadaan pandemi covid-19.<\/li><li>Untuk penugasan kelompok pun masih mengalami kendala karena kurangnya tanggung jawab bersama dalam mengerjakan tugas karena masih tergantung pada salah satu temannya.Sehingga beberapa murid ini pun cenderung masih bersikap kurang bertanggung jawab dengan tidak berpartisi pasi pada saat PJJ dan pengumpulan tugas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>E. <strong>RENCANA PERBAIKAN UNTUK MASA MENDATANG<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Upaya pengembangan budaya positif ini bisa dimulai &nbsp;dari kelas-kelas kemudian diterapkan secara menyeluruh di sekolah. Penerapan budaya positif akan menjadi perubahan baru yang menggerakkan seluruh komponen sekolah untuk memberikan pelayanan terbaik terhadap siswa sehingga bisa mencapai sekolah yang dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila.Untuk mengembangkan budaya positif perlu komunikasi dan kerjasama dengan berbagai pihak mulai dari seluruh komponen sekolah, orang tua, dan berbagai pemangku kepentingan yang lainnya. Dalam pengembangan budaya positif di sekolah SMA Negeri 2 Wonogiri telah saya sampaikan kepada Bapak ibu guru di sekolah pada desiminasi sosialisasi dan aksi nyata budaya positif &nbsp;salah satunya yaitu &nbsp;membuat keyakinan kelas agar dapat diterapkan di setiap kelas perwaliannya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>F. DOKUMENTASI AKSI NYATA BUDAYA POSITIF<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Demonstrasi Kontekstual dalam melaksanakan Segitiga Restitusi<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-25 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"234\" height=\"137\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-3-1.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1499\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-3-1\/\" class=\"wp-image-1499\"\/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"240\" height=\"138\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-4.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1500\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-4\/\" class=\"wp-image-1500\"\/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"161\" height=\"137\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-5.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1501\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-5.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-5\/\" class=\"wp-image-1501\"\/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Kesepakatan kelas XI BB yang dibuat pada awal pembelajaran semester genap 2021\/2022<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-27 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"351\" height=\"414\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-6.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1502\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-6\/\" class=\"wp-image-1502\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-6.jpg 351w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-6-254x300.jpg 254w\" sizes=\"(max-width: 351px) 100vw, 351px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"171\" height=\"415\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-7.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1503\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-7.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-7\/\" class=\"wp-image-1503\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-7.jpg 171w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-7-124x300.jpg 124w\" sizes=\"(max-width: 171px) 100vw, 171px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Peningkatan Literasi Digital dan Literasi&nbsp; membaca buku dari perpustakaan sekolah yang tersedia di pojok baca kelas XI BB<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-29 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"218\" height=\"167\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-10.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1504\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-10.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-10\/\" class=\"wp-image-1504\"\/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"126\" height=\"162\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-9.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1505\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-9.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-9\/\" class=\"wp-image-1505\"\/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"219\" height=\"164\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-8.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1506\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-8.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-8\/\" class=\"wp-image-1506\"\/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Keaktifan murid dalam mengerjakan soal sebagai penugasan mandiri ketika PJJ dan mengerjakan tugas kelompok pada PTMT .<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-31 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"201\" height=\"154\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-13.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1507\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-13.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-13\/\" class=\"wp-image-1507\"\/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"115\" height=\"149\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-12.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1508\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-12\/\" class=\"wp-image-1508\"\/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"267\" height=\"150\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-11.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1509\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-11.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-11\/\" class=\"wp-image-1509\"\/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Melaksanakan Desiminasi&nbsp; Pendidikan Guru Penggerak yaitu Sosialisasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Budaya Positif&nbsp; modul 1.1 sampai dengan modul 1.4<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-33 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"341\" height=\"195\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-15.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1510\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-15\/\" class=\"wp-image-1510\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-15.jpg 341w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-15-300x172.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 341px) 100vw, 341px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"327\" height=\"194\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-14.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1511\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-14\/\" class=\"wp-image-1511\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-14.jpg 327w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-14-300x178.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 327px) 100vw, 327px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"332\" height=\"241\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-17.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1512\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-17.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-17\/\" class=\"wp-image-1512\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-17.jpg 332w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-17-300x218.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 332px) 100vw, 332px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"324\" height=\"245\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-16.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1513\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-16.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2022\/02\/08\/pojok-literasi\/heni-16\/\" class=\"wp-image-1513\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-16.jpg 324w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/heni-16-300x227.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 324px) 100vw, 324px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/guru-penggerak-cover.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1417\" width=\"542\" height=\"205\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/guru-penggerak-cover.jpg 364w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/guru-penggerak-cover-300x114.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 542px) 100vw, 542px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>1.2.a.9. Koneksi Antar Materi &#8211; Nilai dan Peran Guru Penggerak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Nilai dan Peran Guru Penggerak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Nilai-nilai guru penggerak dapat sebagai standar menuntun dan pengambilan keputusan sekaligus motivasi budi pekerti serta tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi kebiasaan dalam mewujudkan peran dari guru penggerak. <strong>Mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid<\/strong> sebagai pedoman guru untuk menghasilkan pendidik sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi inspirasi rekan guru, mendorong kolaborasi dan kerjasama seluruh warga sekolah, mampu menggerakan dan aktif dalam komunitas pendidik, dan mampu mewujudkan kepemimpinan murid dalam arti berani memberikan kepercayaan dan tanggungjawab pada murid. Begitu pentingnya sehingga pendidik harus dapat memahami dan menjiwai nilai-nilai guru penggerak yang diwujudkan dalam peran guru penggerak itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-35 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"671\" height=\"379\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HUT-2.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1420\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/08\/04\/pojok-literasi\/hut-2\/\" class=\"wp-image-1420\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HUT-2.jpg 671w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HUT-2-300x169.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 671px) 100vw, 671px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARI-PAHLAWAN-8-1024x683.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1421\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/08\/04\/pojok-literasi\/hari-pahlawan-8\/\" class=\"wp-image-1421\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARI-PAHLAWAN-8-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARI-PAHLAWAN-8-300x200.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARI-PAHLAWAN-8-768x512.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARI-PAHLAWAN-8-1536x1025.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARI-PAHLAWAN-8-2048x1367.jpg 2048w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARI-PAHLAWAN-8-675x450.jpg 675w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/MPK-3-1024x683.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1422\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/MPK-3-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/08\/04\/pojok-literasi\/mpk-3\/\" class=\"wp-image-1422\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/MPK-3-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/MPK-3-300x200.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/MPK-3-768x512.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/MPK-3-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/MPK-3-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/MPK-3-675x450.jpg 675w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Keterkaitan antara nilai dan peran guru penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, ketiga hal tersebut saling terhubung untuk menghasilkan kemerdekaan berlajar pada anak, beberapa kunci filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara diantaranya adalah :<\/p>\n\n\n\n<p>Menuntun bukanlah menuntut dan berpihak pada murid seiring dengan nilai guru penggerak yaitu berpihak pada murid dan mewujudkan kepemimpinan pada murid. Memberikan kepercayaan dan tanggungjawab, memberikan kesempatan siswa untuk kritis dan berpikir maju, melatih motorik dan bakatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Merdeka dengan menghormati kemerdekaan orang lain, diibaratkan kolaboratif serta reflektif nilai dan peran guru penggerak. Saling menghargai dalam perbedaan, santun dan beretika dalam berkomunikasi, kerjasama bukannya individu, dan melihat potensi anak untuk melihat tumbuh kembangnya bakat dan minat mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Relevan sesuai dengan kodrat alam dan zaman, didalamnya terdapat unsur mandiri dan inovatif. Anak secara tidak langsung akan diajak mengikuti kodrat alam dan kodrat zaman yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi, anak tidak bisa kita ajak berjalan sesuai kodrat pendidik jaman dulu, pendidik harus bisa mengajak siswa berinovasi dan mandiri dalam memecahkan suatu permasalahan maupun ide atau gagasan terkait hal-hal baru.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-37 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"576\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-1-576x1024.jpeg\" alt=\"\" data-id=\"1423\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/08\/04\/pojok-literasi\/olimpiade-sains-1\/\" class=\"wp-image-1423\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-1-576x1024.jpeg 576w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-1-169x300.jpeg 169w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-1-768x1365.jpeg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-1-864x1536.jpeg 864w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-1.jpeg 900w\" sizes=\"(max-width: 576px) 100vw, 576px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-2-768x1024.jpeg\" alt=\"\" data-id=\"1424\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-2.jpeg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/08\/04\/pojok-literasi\/olimpiade-sains-2\/\" class=\"wp-image-1424\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-2-768x1024.jpeg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-2-225x300.jpeg 225w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/OLIMPIADE-SAINS-2.jpeg 774w\" sizes=\"(max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai nilai<\/strong><strong>&nbsp;<\/strong><strong>sesuai demonstrasi konstekstual<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai pendidik diantara lima nilai guru penggerak atau malah keseluruhan sudah pernah dilaksanakan, baik dengan hasil yang baik atau mungkin belum memuaskan kita terhadap hasil tujuan yang tercapai,<\/p>\n\n\n\n<p>peran evaluasi dan berlapang dada siap menerima kritik atau masukkan yang sifatnya membangun dan memperbaiki setelah pelaksanaan yang belum berhasil atau belum maksimal, pendidik dapat melakukan <strong>reflektif<\/strong> untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang dihadapi&nbsp; dengan tujuan mencari pemecahan masalah, kerjasama dalam suatu <strong>kolaborasi<\/strong> dengan rekan kerja dengan saling menghargai segala perbedaan dan &nbsp;tanpa harus diperdebatkan dengan menyinggung perasaan dan diri orang lain, <strong>mandiri<\/strong> berusaha mencari metode maupun media yang tepat untuk diterapkan setelah dilakukan evaluasi, <strong>inovatif<\/strong> dengan menciptakan ide atau gagasan yang sifatnya meningkatkan kreatifitas guru maupun anak itu sendiri, menarik perhatian anak, dan menciptakan teknologi baru ataupun memanfaatkan teknologi yang sudah ada, dan yang terakhir adalah membiasakan melihat potensi siswa dengan tujuan <strong>berpihak pada anak<\/strong>, melihat minat dan bakatnya, menganalisis hasil belajarnya, kecakapannya dalam menguasai bidang ilmu tertentu, dan memberi kepercayaan dengan tujuan meningkatkan rasa tanggungjawab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>\u201cJika kita gagal merencanakan, berarti sama saja<\/em><em>&nbsp;<\/em><em>kita sedang merencanakan kegagalan\u201d,<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>\u201ckita harus berani lakukan aksi nyata bukan terbatas pada teori dan pekataan saja.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pihak yang dapat membantu dalam mencapai gambaran diri pendidik di demonstrasi kontekstual<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-39 is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"462\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HUT-8-1024x462.jpeg\" alt=\"\" data-id=\"1426\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/08\/04\/pojok-literasi\/hut-8\/\" class=\"wp-image-1426\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HUT-8-1024x462.jpeg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HUT-8-300x135.jpeg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HUT-8-768x347.jpeg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HUT-8.jpeg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1022\" height=\"573\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/PELANTIKAN-OSIS-4.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1427\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/08\/04\/pojok-literasi\/pelantikan-osis-4\/\" class=\"wp-image-1427\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/PELANTIKAN-OSIS-4.jpg 1022w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/PELANTIKAN-OSIS-4-300x168.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/PELANTIKAN-OSIS-4-768x431.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1022px) 100vw, 1022px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARDIKNAS-2-1024x768.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1428\" data-full-url=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARDIKNAS-2-scaled.jpg\" data-link=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php\/2021\/08\/04\/pojok-literasi\/hardiknas-2\/\" class=\"wp-image-1428\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARDIKNAS-2-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARDIKNAS-2-300x225.jpg 300w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARDIKNAS-2-768x576.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARDIKNAS-2-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/HARDIKNAS-2-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n\n\n\n<p>Dalam mensukseskan tujuan pendidikan diri saya banyak komponen yang saling bersinergi dan bekerjasama, selain anak sebagai objek dan subjek ada tri pusat pendidikan yaitu sekolah, keluarga, dan lingkungan. Sekolah merupakan tempat pelaksana pendidik dan penuntun itu sendiri, staff tata usaha sebagai pelaksana administrasi, dan Kepala Sekolah sebagai Top Leader di satuan pendidikan, sebagai pemimpin, penentu kebijakan, pendukung kegiatan, dan penanggungjawab. Keluarga merupakan rumah utama anak-anak, disinilah tuntunan yang paling utama dibentuk yaitu etika dan budi pekerti yang harus dilaksanakan secara berulang dalam suatu kebiasaan, disanalah seorang guru butuh kerjasama &nbsp;orang tua untuk memperhatikan perkembangan anak diluar sekolah. Terakhir adalah lingkungan, seorang pendidik akan kesulitan mengontrol dan memperhatikan di luar batas lingkungan belajar sekolah, anak sendirilah yang harus mulai belajar baik dan buruk, hitam dan putih, dan benar atau salah, karena dalam suatu pergaulan apakah kita akan menjadi panutan atau malah kita yang akan terkena gelombang dan terombang-ambing.<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8221; Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya. &#8220;<\/em> Ki Hajar Dewantara<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignright size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/untuk-web-561x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1429\" width=\"72\" height=\"131\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/untuk-web-561x1024.jpg 561w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/untuk-web-164x300.jpg 164w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/untuk-web-768x1403.jpg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/untuk-web-841x1536.jpg 841w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/untuk-web-1121x2048.jpg 1121w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/untuk-web-1024x1871.jpg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/untuk-web-scaled.jpg 1401w\" sizes=\"(max-width: 72px) 100vw, 72px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">Anggrit Yusnanto<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">CGP Angkatan 4 \u2013 Kabupaten Wonogiri<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Menyalakan Literasi di Tengah Pandemi, <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>SMA Negeri 2 Wonogiri Terbitkan 5 Buku<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"724\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/WhatsApp-Image-2021-08-03-at-13.03.11-724x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1393\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/WhatsApp-Image-2021-08-03-at-13.03.11-724x1024.jpeg 724w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/WhatsApp-Image-2021-08-03-at-13.03.11-212x300.jpeg 212w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/WhatsApp-Image-2021-08-03-at-13.03.11-768x1086.jpeg 768w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/WhatsApp-Image-2021-08-03-at-13.03.11-1086x1536.jpeg 1086w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/WhatsApp-Image-2021-08-03-at-13.03.11-1024x1449.jpeg 1024w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/WhatsApp-Image-2021-08-03-at-13.03.11.jpeg 1131w\" sizes=\"(max-width: 724px) 100vw, 724px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kegiatan penguatan literasi sekolah di tengah pandemi covid-19 memang memerlukan usaha lebih. Saat pembelajaran dilakukan secara daring, kegiatan penguatan karakter menjadi lebih sulit, termasuk karakter gemar membaca.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu upaya yang dilaksanakan oleh SMA Negeri 2 Wonogiri untuk menyalakan literasi di tengah pandemic adalah dengan mendukung penerbitan buku karya guru, karyawan atau siswa. Dalam tahun pelajaran 2020\/2021, sudah ada 5 buku yang didukung penerbitannya oleh sekolah, terdiri dari 3 buku karya guru, &nbsp;dan dua buku antologi karya siswa, guru dan karyawan.<\/p>\n\n\n\n<p>Buku yang pertama adalah karya Bapak Uji Saputro, S.Si, M.Si, berjudul : BUSAKUSOHOT; Buku Saku Kumpulan Soal HOTS Kimia Kelas XII. Buku ini akan membantu siswa kelas XII dan guru untuk belajar Kimia dengan lebih menyenangkan. Setiap soal dilengkapi dengan pembahasan yang terperinci dan jelas. Model soal HOTS yang disajikan di buku ini memang sudah sesuai dengan tuntutan zaman. Soal HOTS melibatkan keterampilan perpikir aras tinggi (Higher Order Thinking Skills), sebuah ketrampilan yang diperlukan siswa sebagai bekal menghadapi abad 21. Awesome!<\/p>\n\n\n\n<p>Buku yang ke-dua adalah buku karya Ibu Yayah Nur Rohayati, S.Pd, M.Pd, berjudul: I LIKE SPEAKING ENGLISH BUT I\u2019M INDONESIAN. Buku karya Ibu Guru Bahasa Inggris ini berisi tentang upaya penguatan karakter di dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Tidak hanya teoritis, buku ini juga memberikan contoh \u2013 contoh riil tentang bagaimana penerapannya di dalam kelas. Meskipun mempelajari bahasa asing, siswa tetap akan dikuatkan kecintaannya akan bahasa dan budaya bangsa sendiri. Great!<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Kedua buku diatas merupakan pemenang di lomba Guru Menulis yang diselenggarakan oleh SMA N 2 Wonogiri dalam kegiatan Festival Literasi Daring pada bulan Januari 2021. Kedua guru tersebut mendapat bantuan subsidi penerbitan buku sebagai hadiahnya.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"385\" height=\"389\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1394\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/2.png 385w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/2-297x300.png 297w\" sizes=\"(max-width: 385px) 100vw, 385px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Buku karya guru ketiga adalah buku MY STORY BOOK karya Ibu Dewi Apriliana, S.Pd. Buku ini mendapat juara 3 Penulis Terbaik dalam program SAGUSAKU 2021 \u2013 Satu Guru Satu Buku \u2013 Kabupaten Wonogiri. My Story Book berisi kumpulan cerita bilingual English \u2013 Indonesian yang akan menjadi teman menarik untuk belajar Bahasa Inggris. Cerita-cerita di dalamnya dibuat dalam rentang kosakata (vocabulary) yang bertahap, mulai dari mudah sampai sedang. Cocok untuk mereka yang ingin belajar Bahasa Inggris melalui cerita yang menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Buku keempat ini bagai sebuah kejutan, bapak ibu guru karyawan SMA N 2 Wonogiri bersemangat menulis puisi \u2013 puisi indah untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional 2021. Bapak Ibu guru dan karyawan yang sebagian besar jarang, atau malah tidak pernah menulis puisi, bisa menghasilkan karya \u2013 karya puisi yang begitu membanggakan. Untuk mengapresiasi karya \u2013 karya mereka itulah, sekolah kemudian berencana untuk menerbitkannya dalam bentuk buku antologi puisi berjudul JEJAK KAKI MIMPI.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"629\" height=\"462\" src=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1395\" srcset=\"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/3.png 629w, https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/3-300x220.png 300w\" sizes=\"(max-width: 629px) 100vw, 629px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Buku kelima ini tak kalah membanggakan. Buku SEBUNGKUS CILOK UNTUK KAKAKKU bagaikan sebuah <em>masterpiece,<\/em>&nbsp;kumpulan karya membanggakan dari siswa-siswi SMA N 2 Wonogiri. Tulisan \u2013 tulisan di buku ini berupa pentigraf \u2013 cerpen tiga paragraf- yang ringkas dan menarik. Antologi ini lahir dari lomba menulis pentigraf yang diadakan dalam Festival Literasi Daring 2021 SMA N 2 Wonogiri. Siswa dari berbagai kelas mengirimkan pentigraf yang mereka tulis dari rumah. Berbagai cerita suka duka pembelajaran daring yang mereka alami menjadi tema utama di buku antologi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga dengan penerbitan 5 buku tersebut, literasi di SMA N 2 Wonogiri tak akan surut meskipun pandemi melanda. Semoga dengan munculnya karya \u2013 karya tersebut, makin banyak siswa \u2013 siswi SMA N 2 Wonogiri yang bersemangat untuk membaca dan menulis. Bapak Ibu dan karyawan pun juga akan makin bersemangat mengiatkan budaya literasi di sekolah ini. Sejarah menunjukkan bangsa yang besar adalah bangsa dengan budaya literasi yang kuat. Salam Literasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>By. admin Jum&#8217;at, 18 Agustus 2023 MENINGKATKAN KARAKTER DISIPLIN SISWA MELALUI OLAHRAGA Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2411,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1369"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1369"}],"version-history":[{"count":47,"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1369\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2554,"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1369\/revisions\/2554"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2411"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1369"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1369"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sman2wonogiri.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1369"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}