POJOK LITERASI


1.2.a.9. Koneksi Antar Materi – Nilai dan Peran Guru Penggerak

Nilai dan Peran Guru Penggerak

Nilai-nilai guru penggerak dapat sebagai standar menuntun dan pengambilan keputusan sekaligus motivasi budi pekerti serta tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi kebiasaan dalam mewujudkan peran dari guru penggerak. Mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid sebagai pedoman guru untuk menghasilkan pendidik sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi inspirasi rekan guru, mendorong kolaborasi dan kerjasama seluruh warga sekolah, mampu menggerakan dan aktif dalam komunitas pendidik, dan mampu mewujudkan kepemimpinan murid dalam arti berani memberikan kepercayaan dan tanggungjawab pada murid. Begitu pentingnya sehingga pendidik harus dapat memahami dan menjiwai nilai-nilai guru penggerak yang diwujudkan dalam peran guru penggerak itu sendiri.

Keterkaitan antara nilai dan peran guru penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, ketiga hal tersebut saling terhubung untuk menghasilkan kemerdekaan berlajar pada anak, beberapa kunci filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara diantaranya adalah :

Menuntun bukanlah menuntut dan berpihak pada murid seiring dengan nilai guru penggerak yaitu berpihak pada murid dan mewujudkan kepemimpinan pada murid. Memberikan kepercayaan dan tanggungjawab, memberikan kesempatan siswa untuk kritis dan berpikir maju, melatih motorik dan bakatnya.

Merdeka dengan menghormati kemerdekaan orang lain, diibaratkan kolaboratif serta reflektif nilai dan peran guru penggerak. Saling menghargai dalam perbedaan, santun dan beretika dalam berkomunikasi, kerjasama bukannya individu, dan melihat potensi anak untuk melihat tumbuh kembangnya bakat dan minat mereka.

Relevan sesuai dengan kodrat alam dan zaman, didalamnya terdapat unsur mandiri dan inovatif. Anak secara tidak langsung akan diajak mengikuti kodrat alam dan kodrat zaman yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi, anak tidak bisa kita ajak berjalan sesuai kodrat pendidik jaman dulu, pendidik harus bisa mengajak siswa berinovasi dan mandiri dalam memecahkan suatu permasalahan maupun ide atau gagasan terkait hal-hal baru.

Strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai nilai sesuai demonstrasi konstekstual

Sebagai pendidik diantara lima nilai guru penggerak atau malah keseluruhan sudah pernah dilaksanakan, baik dengan hasil yang baik atau mungkin belum memuaskan kita terhadap hasil tujuan yang tercapai,

peran evaluasi dan berlapang dada siap menerima kritik atau masukkan yang sifatnya membangun dan memperbaiki setelah pelaksanaan yang belum berhasil atau belum maksimal, pendidik dapat melakukan reflektif untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang dihadapi  dengan tujuan mencari pemecahan masalah, kerjasama dalam suatu kolaborasi dengan rekan kerja dengan saling menghargai segala perbedaan dan  tanpa harus diperdebatkan dengan menyinggung perasaan dan diri orang lain, mandiri berusaha mencari metode maupun media yang tepat untuk diterapkan setelah dilakukan evaluasi, inovatif dengan menciptakan ide atau gagasan yang sifatnya meningkatkan kreatifitas guru maupun anak itu sendiri, menarik perhatian anak, dan menciptakan teknologi baru ataupun memanfaatkan teknologi yang sudah ada, dan yang terakhir adalah membiasakan melihat potensi siswa dengan tujuan berpihak pada anak, melihat minat dan bakatnya, menganalisis hasil belajarnya, kecakapannya dalam menguasai bidang ilmu tertentu, dan memberi kepercayaan dengan tujuan meningkatkan rasa tanggungjawab.

“Jika kita gagal merencanakan, berarti sama saja kita sedang merencanakan kegagalan”,

“kita harus berani lakukan aksi nyata bukan terbatas pada teori dan pekataan saja.”

Pihak yang dapat membantu dalam mencapai gambaran diri pendidik di demonstrasi kontekstual

Dalam mensukseskan tujuan pendidikan diri saya banyak komponen yang saling bersinergi dan bekerjasama, selain anak sebagai objek dan subjek ada tri pusat pendidikan yaitu sekolah, keluarga, dan lingkungan. Sekolah merupakan tempat pelaksana pendidik dan penuntun itu sendiri, staff tata usaha sebagai pelaksana administrasi, dan Kepala Sekolah sebagai Top Leader di satuan pendidikan, sebagai pemimpin, penentu kebijakan, pendukung kegiatan, dan penanggungjawab. Keluarga merupakan rumah utama anak-anak, disinilah tuntunan yang paling utama dibentuk yaitu etika dan budi pekerti yang harus dilaksanakan secara berulang dalam suatu kebiasaan, disanalah seorang guru butuh kerjasama  orang tua untuk memperhatikan perkembangan anak diluar sekolah. Terakhir adalah lingkungan, seorang pendidik akan kesulitan mengontrol dan memperhatikan di luar batas lingkungan belajar sekolah, anak sendirilah yang harus mulai belajar baik dan buruk, hitam dan putih, dan benar atau salah, karena dalam suatu pergaulan apakah kita akan menjadi panutan atau malah kita yang akan terkena gelombang dan terombang-ambing.

” Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya. “ Ki Hajar Dewantara


Anggrit Yusnanto

CGP Angkatan 4 – Kabupaten Wonogiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *